Penolakan Komodo Harus Diikuti Perbaikan Habitat

Kompas.com - 29/07/2009, 17:06 WIB
Editor

DENPASAR, KOMPAS.com — Upaya penolakan pemindahan lima pasang komodo dari Nusa Tenggara Timur ke Bali harus diikuti dengan upaya perbaikan kondisi habitat asli komodo, khususnya di Wae Wuul, Manggarai Barat, NTT. Jika hal itu terlaksana, maka alasan pemurnian genetik pemindahan komodo ke Bali tidak berlaku lagi. Hal itu disampaikan sejumlah perwakilan mahasiswa NTT di Denpasar, Rabu (29/7). Ambrosius Ardin, Koordinator Kelompok Studi Mahasiswa Manggarai di Bali, mempertanyakan logika yang diungkapkan Menteri Kehutanan MS Kaban tentang pemindahan komodo ke Pulau Bali.

Di Jakarta, Senin lalu, Kaban menyatakan, pemurnian genetik dilakukan sekaligus untuk penyelamatan komodo di Pulau Flores dari kepunahan. Komodo dinilainya juga terancam karena habitat hidupnya yang mudah terbakar di musim panas serta kekhawatiran adanya konflik dengan masyarakat karena komodo memakan ternak warga (Kompas, 28 Juli 2009).

"Bukankah seharusnya habitat jika dinilai rusak lebih baik diperbaiki sehingga pemurnian genetik itu dapat dilakukan di habitat asli komodo itu. Lagian, ketika jumlahnya yang sudah minim, yakni belasan ekor diambil lagi 10 ekor, apakah tidak akan mendorong habisnya satwa itu, terutama di Wae Wuul," kata Ardin.

Kalangan mahasiswa itu pun kembali mendesak pencabutan Surat Keputusan Menteri Kehutanan tanggal 13 Mei 2009 yang mengizinkan penangkapan 10 komodo dari Wae Wuul untuk dimurnikan genetiknya di Taman Safari Bali. Pencabutan SK itu, menurut mereka, justru menjadi upaya konkrit menyelamatkan satwa komodo.

Roby Gamar, mahasiswa lainnya, mengatakan, alasan lain dari penolakan masyarakat NTT terkait pemindahan komodo ke Bali adalah berlatar ekonomi pariwisata, apabila nantinya pemurnian genetik komodo di Bali itu kemudian dikemas menjadi atraksi wisata khusus, maka dikhawatirkan, wisatawan yang berkunjung langsung ke NTT sebagai habitat asli hewan itu akan berkurang.

Karena itu, penolakan masyarakat NTT itu seyogyanya juga diikuti dengan upaya meningkatkan kerja pemerintah daerah dalam menggarap sektor pariwisata. "Kampanye pemilihan Pulau Komodo sebagai salah satu keajaiban dunia adalah sebuah momentum untuk melakukan hal itu," kata Roby.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X