Dukung Pemurnian Komodo di Flores

Kompas.com - 30/07/2009, 09:53 WIB
Editor

DENPASAR, KOMPAS.com — Upaya pemurnian genetik komodo adalah rencana yang seharusnya didukung. Namun, dukungan itu hanya jika pemurnian, seperti diwacanakan Menteri Kehutanan MS Kaban, dilakukan di habitat aslinya, yakni di Flores, Nusa Tenggara Timur.

Penegasan itu disampaikan Rofino Kant, pemerhati lingkungan hidup yang juga Koordinator Gerakan Pelestarian Komodo Flores, di Ruteng, Rabu (29/7). Ia dimintai komentarnya terkait pernyataan MS Kaban, Selasa di Jakarta. Kaban menyatakan, pemurnian genetik dilakukan sekaligus untuk penyelamatan komodo di Pulau Flores dari kepunahan. Komodo dinilai terancam karena habitat hidupnya mudah terbakar pada musim panas dan khawatir adanya konflik dengan masyarakat karena komodo memakan ternak warga (Kompas, 29 Juli 2009).

"Yang kami tolak kalau pemurnian genetik binatang langka itu dilakukan di Bali atau daerah lain. Kami sepenuhnya mendukung pemurnian langsung di habitatnya di Flores. Berarti harus disediakan fasilitas pendukungnya," katanya.

Penegasan senada dilontarkan Bernadus Baratdaya, Koordinator Gerakan Masyarakat Antitambang Manggarai Barat, di Labuan Bajo. "Sampai kapan pun kami menolak kalau pemurnian genetik dilakukan di daerah lain. Komodo harus tetap di habitat aslinya karena andalan pariwisata Flores, khususnya Manggarai Barat," ujar Bernadus.

Rofino menambahkan, pengambilan komodo dari habitat aslinya di Flores sudah berkali-kali dilakukan Departemen Kehutanan untuk koleksi sejumlah taman safari di Tanah Air dan cendera mata bagi tamu negara. Kebun Binatang Gembira Loka di Yogyakarta dan Kebun Binatang Wonokromo, Surabaya, adalah dua contoh kebun binatang yang dilengkapi komodo.

"Ini adalah contoh kebijakan yang pincang. Komodonya dipindahkan ke daerah lain, sementara habitat aslinya dibiarkan terabaikan. Seharusnya habitat aslinya yang dibenahi sehingga komodo tetap berkarakter binatang buas dan ganas," katanya.

Perbaikan habitat

Di Denpasar, Bali, sejumlah perwakilan mahasiswa NTT menyatakan, harus dilakukan perbaikan habitat asli komodo, khususnya di Wae Wuul, Manggarai Barat, NTT, sehingga tidak perlu membawa komodo ke Bali. Ambrosius Ardin, Koordinator Kelompok Studi Mahasiswa Manggarai di Bali, mempertanyakan logika Kaban tentang pemindahan itu.

"Bukankah seharusnya di habitat. Jika dinilai rusak, lebih baik diperbaiki sehingga pemurnian genetik dapat dilakukan di sana. Lagi pula jumlahnya sudah minim, tinggal belasan ekor, diambil lagi 10 ekor, apa tidak akan mendorong habisnya satwa itu, terutama di Wae Wuul," katanya,

Kalangan mahasiswa kembali mendesak pencabutan Surat Keputusan Menteri Kehutanan tanggal 13 Mei 2009 yang mengizinkan penangkapan 10 ekor komodo dari Wae Wuul untuk pemurnian genetik di Taman Safari Bali. Pencabutan SK itu, menurut mereka, merupakan upaya konkret penyelamatan komodo.

Roby Gamar, mahasiswa yang lain, mengatakan, alasan lain penolakan masyarakat NTT adalah berlatar ekonomi pariwisata. Jika pemurnian genetik di Bali itu dikemas sebagai acara khusus, dikhawatirkan wisatawan yang ke NTT turun jumlahnya.

"Sebaiknya, penolakan masyarakat itu diikuti upaya meningkatkan kinerja pemerintah. Kampanye pemilihan Pulau Komodo sebagai salah satu keajaiban dunia adalah momentum untuk melakukan itu," kata Roby. (BEN/ANS)



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X