Yohannes Surya Gembleng Anak-anak Papua - Kompas.com

Yohannes Surya Gembleng Anak-anak Papua

Kompas.com - 30/09/2009, 16:43 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Surya Institute mempersiapkan sejumlah siswa dari beberapa daerah di Provinsi Papua untuk mengikuti olimpiade sains atau matematika di tingkat nasional dan internasional. 

Profesor Yohanes Surya, pendiri lembaga tersebut, mengatakan, pihaknya bekerja sama dengan pemerintah daerah, World Vision Internasional, serta Lembaga Nobel Indonesia.

"Kami ingin membuktikan, bahwa anak-anak Papua yang selama ini dianggap terbelakang dan sudah tidak bisa diapa-apakan itu, bisa melakukannya kalau dilatih. Mereka punya harapan," ujarnya di Jakarta, Rabu (30/9).

Selama melakukan perjalanan dalam rangka memperkenalkan metode pembelajaran matematika "gasing" yang di kembangkannya, Yohannes secara acak memilih masing-masing lima siswa kelas tiga sampai enam Sekolah Dasar dari Kabupaten Tolikara, Wamena dan Lanijaya di Papua.

"Kami tidak melakukan seleksi karena memang tidak bisa diseleksi. Semua anak di sana rata-rata tidak menguasai matematika, bahkan siswa SMA pun masih ada yang belum menguasai ilmu hitung pecahan," jelasnya.

Kemudian, lanjut Yohannes, anak-anak yang terpilih itu diboyongnya ke Jakarta untuk mengikuti pembelajaran matematika secara intensif di Surya Institute. Selama sekitar 12 jam per hari, anak-anak itu tidak hanya mempelajari matematika, melainkan juga Bahasa Inggris, seni lukis dan musik.

Saat ini, tiga anak dari Tolikara sudah menjalani latihan sekitar lima bulan. Mereka antara lain adalah  Wemi Jikwa (12), Ali Kogoya (12), serta Merlin Enjelin Rosalina Kogoya (9). 


Editor

Terkini Lainnya

Kala Bekasi Menuntut Hibah Rp 2,09 Triliun dari DKI...

Kala Bekasi Menuntut Hibah Rp 2,09 Triliun dari DKI...

Megapolitan
Saudi Pastikan Penyebab Kematian Khashoggi, Begini Reaksi Trump

Saudi Pastikan Penyebab Kematian Khashoggi, Begini Reaksi Trump

Internasional
Komnas HAM Kritik Sikap Pemerintah yang Tak Penuhi Hak Warga Penghayat Kepercayaan

Komnas HAM Kritik Sikap Pemerintah yang Tak Penuhi Hak Warga Penghayat Kepercayaan

Nasional
4 Fakta Baru Kasus Vlog Ahmad Dhani, Dugaan Kriminalisasi hingga Janji Tak Akan Lari

4 Fakta Baru Kasus Vlog Ahmad Dhani, Dugaan Kriminalisasi hingga Janji Tak Akan Lari

Regional
Guru Bahasa Didorong Kuasai Multi Literasi

Guru Bahasa Didorong Kuasai Multi Literasi

Edukasi
Tahun Keempat Jokowi-JK, Angin Segar bagi PNS, TNI, Polri, dan Pensiunan...

Tahun Keempat Jokowi-JK, Angin Segar bagi PNS, TNI, Polri, dan Pensiunan...

Nasional
Rekonstruksi Menguak 5 Fakta Baru dalam Kasus 'Peluru Nyasar' DPR RI

Rekonstruksi Menguak 5 Fakta Baru dalam Kasus "Peluru Nyasar" DPR RI

Megapolitan
Beasiswa Penuh Program S2 Inggris dari Chevening

Beasiswa Penuh Program S2 Inggris dari Chevening

Edukasi
Gubernur NTT: ASN Boleh Kaya, tetapi Harus Kerja seperti Tanam Bawang

Gubernur NTT: ASN Boleh Kaya, tetapi Harus Kerja seperti Tanam Bawang

Regional
Kabar Dunia Sepekan: Raibnya Jurnalis Saudi, hingga Ancaman Putin

Kabar Dunia Sepekan: Raibnya Jurnalis Saudi, hingga Ancaman Putin

Internasional
Ketika 7 Tarian Nusantara Pukau Publik Chile di Peñaflor...

Ketika 7 Tarian Nusantara Pukau Publik Chile di Peñaflor...

Internasional
Di Rusia, Ridwan Kamil Singgung 'One Village One Company' dan 'Happiness Program' untuk Jawa Barat

Di Rusia, Ridwan Kamil Singgung "One Village One Company" dan "Happiness Program" untuk Jawa Barat

Regional
Saudi Akui Jamal Khashoggi Tewas di Gedung Konsulat akibat Bertikai

Saudi Akui Jamal Khashoggi Tewas di Gedung Konsulat akibat Bertikai

Internasional
Kalyana Anjani Jadi Lulusan Termuda ITB pada Usia 18 Tahun, Ini Rahasianya

Kalyana Anjani Jadi Lulusan Termuda ITB pada Usia 18 Tahun, Ini Rahasianya

Regional
'Saya Kaget Pengurusan PTSL Nol Biayanya...'

"Saya Kaget Pengurusan PTSL Nol Biayanya..."

Megapolitan

Close Ads X