Bahagia karena Koleksi Perpustakaan Bertambah

Kompas.com - 10/12/2009, 07:10 WIB
Editorjimbon

KOMPAS.com - Meski bantuan itu jumlahnya sedikit, ternyata amat bermanfaat dan membuat gembira warga Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur, perbatasan Indonesia-Malaysia. Maklum, kondisi di perbatasan ternyata serba terbatas dan sulit menggapai kesejahteraan yang diidam-idamkan. 

Pulau Sebatik terdiri dari bagian utara milik Malaysia dan bagian selatan milik Indonesia. Di wilayah Indonesia bermukim 37.000 warga. Jumlah itu terdiri dari 22.000 jiwa warga Kecamatan Sebatik dan 15.000 jiwa warga Kecamatan Sebatik Barat.

SMA Negeri 1 Kecamatan Sebatik berdiri sejak tahun 2005 dengan jumlah siswa 520 orang. Sebelum bantuan dari PT Pertamina (Persero) masuk November 2009, jumlah buku di perpustakaan cuma 125 buku. Kini koleksi buku menjadi 800 buah setelah datang bantuan 675 buku dari perusahaan minyak dan gas bumi milik pemerintah itu.

”Di Sebatik tidak ada toko atau kios buku meskipun kami bisa menabung untuk membeli buku. Biasanya kami pesan kepada kenalan yang bepergian ke Tarakan dan Samarinda atau yang pulang kampung ke Jawa untuk membelikan buku-buku,” kata Arfia Rosalina, siswa kelas 11 IPA 2, Sabtu (5/12).

Saat ditemui pada waktu istirahat, Arfia sedang membaca novel Misteri Kematian Gaby dan Lagunya Jauh karya Agnes Danovar yang dipinjam dari Siti Mutmainah, siswa kelas 11 IPS 1. Matanya berbinar dan wajahnya berseri sekaligus agak bingung seperti orang tidak percaya saat diberi satu novel Kalatidha karya Seno Gumira Ajidarma.

”Karena senang membaca, di antara kami sering pinjam-meminjam buku koleksi pribadi. Kami semakin bahagia karena koleksi perpustakaan bertambah banyak dari bantuan,” kata Mutmainah.

Buku adalah salah satu jenis bantuan yang diberikan Pertamina kepada warga Sebatik. Yang lainnya adalah sepuluh mesin pembangkit listrik untuk penerangan bagan-bagan ikan milik nelayan yang kurang mampu. Ada juga pelapisan 200 meter jalan di Dusun Rawaindah, Desa Tanjungaru, dengan semen. Selain itu, pemberian susu sebanyak 100 kardus untuk anak-anak balita dan ibu-ibu hamil yang kurang mampu.

”Bantuan itu menunjukkan kami serius melaksanakan program tanggung jawab sosial perusahaan,” kata GM Pemasaran BBM Retail Region VI (Kalimantan) Alfian Nasution.

Camat Sebatik Suaedi mengatakan, bantuan dari Pertamina memang kecil dilihat dari jumlahnya. ”Namun, sekecil apa pun bantuan bisa membuat kami sangat bahagia karena kami warga perbatasan jarang mendapat perhatian khusus,” katanya.

Made, nelayan Desa Tanjungkarang, mengatakan selama ini sering meminjam mesin pembangkit dengan sesama nelayan. ”Kalau di bagan tak ada mesin, lampu tidak menyala sehingga ikan yang didapat pasti sedikit.”

Bantuan 10 mesin pembangkit memang amat kecil dibandingkan keberadaan 350 bagan.

Di Sebatik ada 1.800 nelayan pemilik perahu penangkap ikan. Satu perahu biasanya butuh tiga sampai empat orang kru. Dengan begitu, ada sekitar 6.000 warga yang bergantung pada perikanan laut.

Nelayan Sebatik setiap tahun bisa menangkap ikan rata-rata 4.500 ton senilai hampir Rp 61 miliar. Sayangnya, hampir semua ikan dijual ke Tawau, Malaysia, yang bisa ditempuh dengan 20 menit berperahu dari Sebatik. ”Di Tawau 1 kilogram ikan bisa laku 3 ringgit Malaysia (Rp 9.000). Di Nunukan, paling cuma separuhnya,” kata Manase, nelayan Desa Tanjungkarang. (BRO)



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X