Trik Melatih Kepekaan Anak

Kompas.com - 29/01/2010, 08:42 WIB
Editordin

KOMPAS.com — Belajar baca-tulis pada anak usia dini bisa dilakukan dengan cara menyenangkan. Cara paksaan dengan jadwal belajar ketat dan harus memenuhi target buatan orang dewasa hanya akan membuat anak merasa tertekan.

Anak bisa saja mahir baca-tulis pada usia dini, tetapi apakah kesadaran dan kebutuhan juga ikut tumbuh dalam jiwa mereka? Itu pertanyaan dasarnya. Tanpa didasari kebutuhan belajar, anak terbentuk seperti robot yang pasrah saja diprogram apa pun oleh orangtuanya.

Ermalen Dewita, pendiri pendidikan berbasis karakter Komunitas Cerdas Merdeka di bawah asuhan Semai Benih Bangsa (Pundi Amal SCTV), memaparkan, masa anak-anak adalah saat tepat untuk menggali dan melatih kepekaan.

"Dengan melatih kepekaan anak sejak dini melalui proses alamiah si anak, akan terbentuk kesadaran dari jiwa terdalam anak. Kepekaan ini kemudian melahirkan kebutuhan dasar anak yang datang dari rasa ingin tahu mereka. Jika anak dapat menyadari kebutuhannya, kesadaran belajar akan muncul dengan sendirinya tanpa dipaksa, termasuk dalam hal baca-tulis sejak usia dini,"  ujar Dewi kepada Kompas Female.

Lantas, bagaimana cara menumbuhkan kesadaran belajar dari dalam diri si anak? Jawabnya, bebaskan anak beraktivitas dan menggali rasa ingin tahu.

Seberapa sering Anda melihat anak membolak-balik buku cerita atau buku bacaan? Apa yang Anda lakukan? Menghentikan aktivitas si anak karena menurut persepsi Anda si anak akan merobek buku dan membuat berantakan seisi rumah? Jika itu cara Anda, hentikan sekarang juga.

Masa alami anak-anak menggali rasa ingin tahunya dimulai dengan membongkar rak buku dan melihat buku-buku tersebut meski si anak belum bisa membaca. Bebaskan anak menggali rasa ingin tahunya dengan melihat bentuk buku, gambar, tulisan, atau apa pun yang menarik perhatian mereka dari bahan bacaan. Bahkan, sekadar memegang buku pun menjadi awal ketertarikan anak yang semestinya tidak diintervensi orang dewasa.

Selanjutnya, anak akan mulai mengenali alat tulis dan membuat coretan tak beraturan. Sebagai orangtua, arahkan anak untuk mencoret di tempat yang disediakan. Biarkan anak mengeksplorasi dirinya. Jika anak terlihat aktif, pantau mereka tanpa perlu mencampuri, apalagi melarang. Anak-anak tak akan tahu rasanya sakit karena terjatuh jika dilarang berlarian, bukan?

"Jika kebebasan eksplorasi diri ini didapatkan oleh anak-anak, akan muncul masa di mana anak merasa butuh sesuatu, termasuk belajar membaca," papar Dewi.

Sederhananya, dimulai dari pegang buku, membolak-balik halaman, hingga mencoret, anak mulai merasa butuh belajar baca tulis. Jika sudah butuh, anak akan meminta. Nah, di sini orangtua punya peran. Mulai saja dengan membacakan buku cerita dan mendiskusikan; perlahan anak akan mulai bertanya cara membacanya. Peran aktif orangtua sangat memengaruhi sejauh mana kemampuan baca-tulis anak. 

"Proses ini tak berarti harus berjalan berurutan, setiap anak punya kebutuhan berbeda. Jadi, proses alami ini bisa saja dilakukan acak. Bisa jadi anak lebih tertarik mencoret daripada membuka buku. Melihat karakter anak menjadi acuan metode belajar yang paling tepat untuk membuat anak bertumbuh," tandas Dewi.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X