Pendangkalan Sungai Musi Mengganggu Pelayaran

Kompas.com - 08/02/2010, 03:31 WIB
Editor

Palembang, Kompas - Pendangkalan di Sungai Musi, Provinsi Sumatera Selatan, terjadi akibat sedimentasi semakin parah sehingga terus mengganggu pelayaran kapal besar. Setiap tahun PT Pelindo harus mengeluarkan dana Rp 8 miliar-Rp 16 miliar untuk mengeruk lumpur di muara Sungai Musi.

”Volume lumpur yang mengendap di muara Sungai Musi berkisar 2 juta hingga 3 juta meter kubik per tahun. Karena itu, kami perlu kapal pengeruk lumpur. Kami sudah mengajukan kepada Departemen (Kementerian) Perhubungan,” kata Kepala Bidang Sarana Prasarana Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumsel Hendrian, Sabtu (6/2), dalam diskusi di Kantor Harian Kompas Biro Sumatera Bagian Selatan di Palembang.

Pengadaan kapal keruk seharga Rp 250 miliar, menurut Hendrian, jauh lebih ekonomis ketimbang jika setiap tahun mengeluarkan dana belasan miliar rupiah untuk pengerukan. Apalagi, volume lumpur terus bertambah setiap tahun. Pengerukan oleh PT Pelindo dilakukan sejak tahun 1998.

Hendrian menuturkan, Sungai Musi juga memiliki karakter yang unik, yaitu mengalami pasang surut dua kali sehari. Kondisi tersebut menyebabkan kapal yang masuk ke Sungai Musi harus dipandu.

Penebangan hutan

Pengamat sungai dari Balai Wilayah Sungai Sumatera, Mawardi, menegaskan, sedimentasi di Sungai Musi disebabkan erosi. Penebangan hutan di bagian hulu sungai untuk perkebunan kelapa sawit adalah penyebabnya.

Selain itu, erosi tebing sungai di Sungai Musi dan Sungai Lematang semakin luas. ”Kondisi ini menambah parah sedimentasi di bagian hilir Sungai Musi,” ujar Mawardi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menurut Manajer Hukum dan Humas PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) Zain Ismed, pendangkalan membuat kapasitas angkut pupuk tidak bisa maksimal. ”Saat ini kapasitas angkut setiap kapal Pusri mencapai 7,5 ton. Namun, karena pendang- kalan, kami hanya mampu mengangkut sekitar 6 ton-6,5 ton,” katanya.

Ditanya soal program pengerukan, kata Ismed, hal ini pernah dilakukan secara sinergi antara Pelindo II, pemda, dan pelaku usaha (Pusri dan Pertamina). Namun, sejak tiga tahun lalu program ini tidak berjalan lagi.

Ismed menyebutkan, biaya yang dialokasikan PT Pusri untuk pengerukan lumpur di muara Sungai Musi berkisar Rp 5 miliar per tahun. Karena sinergi dengan Pelindo tak berjalan lagi, PT Pusri hanya memfokuskan pengerukan di sekitar dermaga pupuk.

Terkait itu, Kepala Seksi Humas PT Pertamina Persero Refinery Unit III Jamsen Purba mengatakan, pendangkalan di Sungai Musi juga mengganggu angkutan bahan bakar minyak Pertamina. Pertamina harus mengukur kemampuan kapasitas angkut kapal-kapal pengangkut bahan bakar minyak yang melewati alur Sungai Musi.

Pada saat musim hujan, kapal- kapal berbobot 10.000 ton dipastikan mampu masuk dan keluar lewat alur Sungai Musi. Namun, saat kemarau, kapal pengangkut yang melintasi sungai itu hanya berbobot 6.000-7.000 ton. ”Pemerintah seharusnya mengeruk lumpur di muara Sungai Musi secara periodik untuk mengurangi pendangkalan,” katanya.

(ONI/WAD/HLN/MZW/JAN)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.