Pembelajaran Buruk untuk Para Pelajar

Kompas.com - 29/03/2010, 16:01 WIB
Editor

Oleh Kris Razianto Mada

Ujian nasional merupakan momok bagi siswa juga guru dan penyelenggara sekolah. Beberapa hari menjelang UN, sebagian sekolah menggelar doa bersama. Saat UN, sebagian guru dan pelajar bertindak curang. Bahkan ada yang pergi ke paranormal dan berharap bisa lulus dengan jampi dan mantra paranormal.

Koordinator Pengawas dan Tim Pemantau Independen Ujian Nasional 2010 di Jawa Timur Syafsir Akhlus sangat berharap kecurangan tahun ini berkurang. Tahun lalu, Jatim dikejutkan dengan dugaan kecurangan massal di SMA Negeri 2 Ngawi dan SMA Negeri 1 Wungu, Madiun. Saat itu, jawaban seluruh peserta di dua sekolah itu sama. Akibatnya, seluruh peserta diperintahkan ikut ujian ulang.

Sayang, harapan itu belum bisa terwujud. Hari pertama UN SMA diwarnai dengan dugaan kebocoran kunci jawaban di berbagai daerah. Sebagian dilaporkan ke pihak berwenang. Sebagian tidak terekam sehingga tidak ditindaklanjuti.

Padahal, ada peserta dan pengawas tertangkap tangan membawa telepon seluler. Seluruh jenis alat komunikasi pun dilarang dibawa ke ruang ujian. "Alat komunikasi dikhawatirkan digunakan mengirim atau menerima jawaban dari pihak lain," ujar Syafsir.

Sementara kecurangan terorganisasi diduga terjadi antara lain di Surabaya. Apalagi ada subrayon hanya terdiri dari dua sekolah. Akibatnya, hanya dua sekolah itu bisa bertukar guru untuk menjadi pengawas. Penukaran secara terbatas dikhawatirkan membuat sekolah bekerja sama untuk melonggarkan pengawasan. Selain itu, ada pula sekolah mengirimkan pengawas fiktif. Menempuh segala cara

Bahkan ada pula sekolah melarang pemantau independen mendekati ruang ujian. Beberapa sekolah juga mengambil paket soal tanpa didampingi pengawas. Dikhawatirkan, paket soal tersebut dibuka terlebih dahulu untuk dicari jawabannya oleh oknum tim sukses di sekolah.

Beberapa pihak memang berkali-kali mengingatkan kecurangan tidak boleh terjadi. Bahkan, Wali Kota Malang Peni Suparto secara terbuka mengingatkan guru jangan jadi tim sukses UN. Tim seperti itulah yang merusak tujuan pendidikan. Tim kerap menghalalkan segala cara demi mencegah murid mendapat nilai buruk.

Tidak cukup melakukan kecurangan, sekolah malah mengajarkan pendekatan mistis untuk penyelesaian masalah. Seperti di Malang ada siswa mengirimkan pensil yang akan dipakai dalam UN untuk didoakan paranormal. Pensil yang sudah didoakan itu diharapkan bisa membantu pengerjaan soal. Ironinya, pengiriman pensil dilakukan setelah murid diajak bersama-sama berdoa dan berserah diri pada Tuhan.

Kontradiktif

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X