Joris Lilimau, Pendidik Suku Hoaulu

Kompas.com - 02/06/2010, 20:39 WIB
EditorMarcus Suprihadi

Oleh A Ponco Anggoro

KOMPAS.com- Saat tak ada yang peduli pendidikan bagi suku Hoaulu, Joris Lilimau tampil berperan. Ia mengenalkan sekolah bagi suku yang tinggal di kawasan hutan Taman Nasional Manusela, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, itu.

Jumat (30/4) pukul 06.30 waktu setempat, masih terluang waktu satu jam sebelum pelajaran di Sekolah Dasar Kecil Hoaulu dimulai. Namun, para murid sudah datang dan duduk di kelas. Saat sang guru datang, 30 murid di dua kelas itu mengikuti kegiatan belajar-mengajar, tanpa seorang pun berani mengobrol.

Dua tahun lalu, jangan membayangkan antusiasme anak-anak Hoaulu seperti itu. ”Ketika sekolah darurat masih dirintis, tak ada siswa yang mau datang,” kenang Joris.

Saat itu, bangunan sekolah beratap sirap, berdinding batang kayu. Ruang keras kerap kosong. Padahal, masyarakat Hoaulu secara gotong royong selama enam bulan telah membangunnya. ”Kesadaran masyarakat untuk membangun sekolah ternyata tidak serta-merta dibarengi kesadaran para orangtua untuk menyekolahkan anak mereka,” katanya.

Harap maklum, mereka sejak ratusan tahun lalu terbiasa menghabiskan hari-hari dengan berburu atau bekerja di ladang. Pendidikan sama sekali tak dikenal sehingga mereka tidak melihatnya sebagai hal penting. Jadi, meski pendidikan di sekolah itu gratis dan anak-anak tak perlu membawa alat tulis dan berseragam sekolah, tetap saja tidak satu pun anak Hoaulu yang mau sekolah.

Joris yang lahir dan dibesarkan di Kanike, desa pedalaman di Manusela, menyadari kondisi itu, tetapi ia tak patah arang. ”Tahun 2008, saya minta dipindahkan ke Hoaulu untuk mengajar masyarakat pedalaman Hoaulu agar mereka tak terus tertinggal. Kasihan, mereka tidak pernah bisa membaca, menulis, atau menghitung. Sekolah yang ada jaraknya puluhan kilometer dari kampung mereka,” katanya.

Untuk ke sekolah, warga Hoaulu harus berjalan kaki melintasi hutan dan Sungai Oni yang saat musim hujan aliran airnya amat deras. Perjalanan itu membutuhkan waktu sekitar tiga jam.

Kue dan permen

Joris mengakui, hanya tekad kuatlah yang membuatnya tetap sabar, mendatangi satu per satu warga Hoaulu untuk menjelaskan pentingnya pendidikan. Biar anak-anak mau bersekolah, ia memberi mereka kue atau permen. ”Selama dua bulan, saya melakukan hal itu. Perlahan, mereka mulai mau belajar. Sekarang, justru murid yang datang ke sekolah jauh lebih cepat daripada gurunya, ha-ha-ha,” katanya.

Halaman:
Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    Close Ads X