"L to L" di SMAN 10 Sampoerna Academy

Kompas.com - 19/07/2010, 17:00 WIB
EditorLatief

MALANG, KOMPAS.com - Cahya Nur Aisyah (15), bersimpuh di depan ayah-ibunya yang duduk di kursi. Dari pelupuk matanya, siswi kelas satu SMAN 10 (Sampoerna Academy) itu terlihat tak kuasa menahan lelehan air mata. Sambil menangis, Cahya memberikan bunga mawar merah yang sedari tadi digenggamnya itu kepada kedua orang tuanya. Ia lalu menangis di pelukan ayah-ibunya.   

Cahya tidak sendirian. Sabtu (17/7/2010) siang itu, di halaman SMAN 10 (Sampoerna Academy), Malang, Jawa Timur, masih ada 140 siswa lainnya dan orang tua mereka masing-masing yang menumpahkan keharuan dan linang air mata karena harus berpisah selama tiga tahun. Karena mulai hari itu, Cahya dan temannya-temannya telah resmi menjadi siswa-siswi asrama SMAN 10-Sampoerna Academy.

Managing Director PSF Nenny Soemawinata mengungkapkan, tahun ini adalah tahun kedua SMAN 10 Malang (Sampoerna Academy) menerima 150 siswa baru penerima beasiswa Putra Sampoerna Foundation (PSF) untuk bersekolah di sekolah itu. Setelah diseleksi, 150 siswa tersebut berhasil menyisihkan 3.150 siswa pelamar beasiswa lainnya untuk menempuh pendidikan di sekolah itu dengan beasiswa senilai 15.000 dollar AS per siswa selama tiga tahun.

"Beasiswa ini untuk membiayai asrama, makan sehari-hari, buku, tunjangan kesehatan, dan seragam mereka," kata Nenny di acara inagurasi siswa-siswi penerima beasiswa tersebut di SMAN 10 (Sampoerna Academy), Sabtu (17/7/2010).

Nenny mengungkapkan, dengan metode sekolah berasrama tersebut SMAN 10 mengupayakan sebuah konsep pendidikan berbasis kompetensi internasional dengan tetap mengedepankan nilai-nilai budaya nasional untuk membentuk karakter calon-calon pemimpin bangsa yang peduli membangun komunitasnya.

"Karena harus diingat, beasiswa ini bukan hadiah, tetapi kesempatan bagi mereka untuk menjadi pemimpin. Bukan di kota, tetapi menjadi pemimpin-pemimpin di kampung halamannya masing-masing dan harus bisa bersaing di dunia internasional, minimal di ASEAN," kata Nenny.

Niken Santjojo, Kepala SMAN 10, mengatakan Program SMAN 10-Sampoerna Academy adalah kerja sama antara SMAN 10, PSF, serta pemerintah daerah dan Departemen Pendidikan Nasional. Dengan nilai beasiswa 5.000 dollar AS atau sekitar Rp 50 juta per anak per tahun itu, kata Niken, para siswa menikmati pendidikan gratis sepenuhnya dengan tinggal di asrama yang saat ini masih "menumpang" di Universitas Brawijaya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Untuk menjembatani konsep pendidikan berbasis kompetensi internasional yang tetap mengedepankan nilai-nilai budaya nasional itu, lanjut Niken, SMAN 10 menerapkan model kurikulum di sekolah tersebut berupa perpaduan khusus kurikulum internasional (Cambridge University atau IGCSE) dan nasional sesuai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

"Dengan metode moving class dan tinggal di asrama kami ingin mereka menjadi siswa yang mandiri, dan kami tak ingin memfokuskan mereka hanya pada kemampuan akademisnya, tetapi juga life skills. Untuk itu, mereka punya kewajiban 200 jam mengikuti ekstra kulikuler atau yang kami sebut di sini dengan learn to live sebagai syarat kelulusan di tahun ketiganya," kata Niken.

Learn Today, Lead Tomorrow

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.