Sarjana, Terjunlah ke Pelosok-pelosok!

Kompas.com - 27/07/2010, 17:38 WIB
EditorLatief

BOGOR, KOMPAS.com - Sarjana baru harus berani keluar dan berpetualang ke pelosok-pelosok desa dan masuk hutan. Hal itu untuk menciptakan pemimpin masa depan dan mengeksplorasi kekayaan alam bagi kesejahteraan bangsa dan negara Indonesia.

Ketua Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar Anis Baswedan dan Pendiri Medco Group Dr (Hc) Ir Arifin Panigoro menegaskan hal itu dalam kuliah terbuka keduanya di Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) di Darmaga, Bogor, Selasa (27/7/2010). Kuliah terbuka bertema "Bangun Energi, Pangan, dan Pendidikan-Merebut Masa Depan" itu dihadiri lulusan IPB yang akan diwisuda Rabu (28/7/2010) serta para mahasiswa baru IPB.

"Sarjana yang baru lulus harus berani mengajar di pelosok desa. Ini bukan saja membantu masalah kekurangan guru di daerah pelosok, tetapi juga menyiapkan diri menjadi pemimpin Indonesia masa depan," kata Anis Bawesdan.

Menurut Anis, hampir semua pemimpin Indonesia zaman dulu seperti Bung Karno pernah mengajar dan pernah berada di tengah-tengah masyarakat. Yayasannya, dengan program Indonesia Mengajar, memberi kesempatan bagi para sarjana baru untuk memulai karier dalam hidupnya untuk menjadi guru sekolah dasar (SD) selama satu tahun di daerah pelosok.

Dengan program tersebut, kata Anis, sarjana baru akan memiliki wadah untuk mengembangkan kemampuan kepemimpinan dan bertahan hidup, serta melebur dengan kehidupan masyarakat. Program ini juga akan memperkuat rasa keindonesiaan, karena akan sulit melupakan suatu daerah dengan tinggal dan hidup bermasyarakat di sana, sehingga akan menciptakan pemimpin masa depan yang memahami kepentingan dan keinginan masyarakat.

"Dari pemimpin sekarang, baik itu di BUMN, perbankan, perusahaan swasta, organisasi politik, hanya pemimpin lulusan akademi militer yang dengan penuh percaya mengatakan pernah tinggal di tengah-tengah masyarakat karena mereka memang pernah ditempatkan di daerah setelah lulus pendidikan," tuturnya.

Adapun Arifin Panigoro mengatakan, sarjana lulusan IPB harus berani meninggalkan daerahnya, berkarir di kehutanan, karena hutan Indonesia sangat luas, menunggu dieskplorasi oleh sarjana-sarjana putra bangsa. Dia menambahkan, bahwa sumber-sumber di masa depan ada di hutan, bukan di fosil. Hutan pun bukan untuk ditebangi, tetapi untuk dimanfatkan dengan baik dan tepat.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Singapura sudah memanfaatkan cabang-cabang pohon dari taman-tamannya untuk menghasilkan listrik. Ada satu perusahaan Medco di sana yang bekerjasama dengan Singapura. Untuk itu, rencananya akhir tahun ini kami di Merauke Papua akan menghasilkan listrik dari cabang-cabang pohon dan dedaunan di sana," kata Arifin.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.