Kualitas Guru Jadi Kendala RSBI

Kompas.com - 23/11/2010, 09:48 WIB
Editor

Surabaya, Kompas - Penerapan rintisan sekolah bertaraf internasional masih jauh dari harapan meski sudah berlangsung beberapa tahun. Salah satu kendala terbesar adalah kualitas guru, terutama kemampuan dalam berbahasa Inggris dan teknologi informasi komunikasi.

Hal ini dikemukakan Kepala Subdirektorat TK dan SD Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar Menengah Kementerian Pendidikan Nasional Muhammad Husnan di sela The First Association of International Schools in Indonesia (AISI) Conference 2010 yang diselenggarakan Ednovation Quality Assurance, Senin (22/11) di Surabaya.

Dari penilaian kinerja tingkat SD untuk angkatan 2008-2009, kata Husnan, 75 persen di antaranya mendapat nilai di atas 75. Namun, 25 persen sisanya masih mendapat nilai di bawah itu.

Sampai 2010, di Indonesia tercatat 285 SD negeri dan swasta sudah berlabel RSBI. Meski demikian, kata Husnan, belum satu pun mampu menjelaskan dan menerapkan pola pembelajaran berstandar internasional.

Karena itu, masih diperlukan pembenahan kurikulum dan manajemen, termasuk organisasi sekolah, sarana, tata kelola kesiswaan, tenaga pendidik, serta hubungan dengan lingkungan sekitar sekolah.

Belum mampu

Kendala terbesar semua sekolah RSBI ini, menurut Husnan, adalah kemampuan sumber daya manusia. Umumnya guru belum memiliki kemampuan berbahasa Inggris memadai. Demikian pula keterampilan teknologi informasi komunikasi (TIK) guru.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hadi Purnomo, guru Bahasa Inggris dan perwakilan Amex di Kabupaten Probolinggo, mengaku bahwa kendala utama sekolah RSBI adalah kemampuan bahasa Inggris guru. Sebagian besar guru belum mampu memahami materi pelajaran yang diampu dalam bahasa Inggris, apalagi mengajar secara dwibahasa.

Hadi mencontohkan, di SMP Negeri 1 Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, hanya satu orang dari empat guru Matematika yang lancar berbahasa Inggris. Pada mata pelajaran IPA, hanya dua orang dari empat guru yang menguasai bahasa Inggris.

Kemampuan TIK menjadi masalah sendiri. Padahal, kata Kepala Cabang PT Bangun Satya Wacana Jatim Rokhmad Bagio Yuwono, siswa saat ini tidak cukup menguasai 3R: reading, writing and arithmatic (membaca, menulis, dan berhitung). Siswa dituntut juga 3X: exploring, expressing and exchanging.

Agar siswa bisa mengeksplorasi hal-hal belum diketahui, komputer dan teknologi diperlukan. ”Ironinya, sekolah kita umumnya menerapkan komputer pendidikan, bukan pendidikan komputer,” tuturnya. (INA)



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X