Deni Menghitung Populasi Komodo - Kompas.com

Deni Menghitung Populasi Komodo

Kompas.com - 07/01/2011, 03:31 WIB

OLEH BENNY D KOESTANTO dan MAWAR KUSUMA WULAN

”Ada jalan membelah di hutan dan aku ambil yang tidak diambil orang. Kutahu, itulah bedanya.” Terjemahan penggalan puisi karya penyair Robert Frost ”The Road Not Taken” itu melekat pada jalan hidup Deni Purwandana, satu-satunya peneliti aktif komodo (”Varanus komodoensis”), yang sudah menghabiskan waktunya di Taman Nasional Komodo, Flores, Nusa Tenggara Timur, hampir satu dasawarsa.

Bertemu dengan Deni secara langsung adalah kesempatan langka. Ia lebih banyak keluar masuk hutan di kawasan Taman Nasional Komodo (TNK) dibanding di Labuan Bajo atau di Denpasar, Bali. Dua tempat itu menjadi tempat rekapitulasi data-data lapangan penelitiannya.

”Biasanya di hutan. Tapi, ini kebetulan sedang rehat untuk merekap data lapangan sebelum kembali lagi ke hutan,” kata Deni di pemondokannya di Loh Liang, Pulau Komodo, kawasan TNK.

Ibarat suatu bangunan, di tengah gegap gempita ajakan pemerintah untuk menjadikan komodo dan TNK sebagai salah satu keajaiban baru dunia, Deni adalah salah satu ”batu penjuru”. Lewat Komodo Survival Program-kerja sama Deni bersama sejumlah rekannya dengan pengelola TNK yang dibiayai European Association Zoos and Aquaria (EAZA)- ia menghitung populasi komodo, meneliti ketersediaan pangan maupun kondisi lingkungan di TNK. Dia kemudian membuat rekomendasi-rekomendasi terkait kondisi-kondisi faktual itu.

”Saya melihat ajang The New 7 Wonders itu tantangan kita. Khawatir juga apabila ternyata kita tidak siap, baik dari segi pemeliharaan komodo, sarana-prasarana, juga sumber daya manusianya,” kata Deni.

Sepanjang tahun 2009, tercatat 36.431 wisatawan berkunjung ke kawasan TNK. Dari jumlah itu, lebih dari 95 persen adalah wisatawan mancanegara, sebagian besar berasal dari Eropa, seperti Belanda, Perancis, Jerman, dan Belgia. Total belanja wisatawan per tahun di daerah itu mencapai Rp 185 miliar. Dari sisi asal negara, jelaslah pelancong ke TNK adalah turis khusus penyuka alam, terlebih kehidupan alam liar dan petualangan. Ini dapat menjadi tolok ukur sekaligus petunjuk bagi pengembangan pariwisata di kawasan itu, termasuk upaya melindungi habitat komodo.

Deni terlibat penelitian komodo di TNK mulai tahun 2001. Saat ia baru saja lulus sarjana dari Jurusan Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Udayana, Bali. Dosennya, ahli komodo asal Italia, Claudio Ciofi, yang sedang menggelar penelitian di kawasan TNK menawari kegiatan yang murni penelitian itu. Deni sama sekali tidak mendapat gaji.

Jatuh cinta

Deni tiba di TNK saat puncak kemarau. TNK yang kering kerontang menantang dia untuk dijelajahi. Pengalaman pertama itulah yang justru membuatnya jatuh cinta kepada komodo. Penelitiannya berlanjut dalam skala waktu 1-3 tahun yang dibiayai sejumlah donor luar negeri. Lembaga donor dan pengelola TNK saling berbagi data tentang komodo dan habitatnya.

”Pemantauan itu harus dilakukan berkelanjutan karena ini menyangkut aset bangsa. Saya bermimpi suatu waktu kita melakukan kegiatan itu secara mandiri. Sebenarnya kita mampu, namun kepentok pada keterbatasan sistem dan tidak adanya anggaran,” kata Deni.

Pekerjaan Deni membutuhkan kesiapan fisik dan mental, serta daya tahan luar biasa. Lalu apa yang mendasari semua itu terlaksana? ”Panggilan,” jawabannya. ”Ini sesuatu yang langka, baik dari obyek penelitian, tempat, hingga kesempatannya. Lebih dari itu, ini ada dan milik Indonesia.”

Saat memantau, Deni harus berjalan jauh, minimal 6-20 kilometer setiap hari. Ia harus membawa perangkap yang beratnya minimal 10 kilogram, belum termasuk daging (umumnya daging kambing/sapi busuk) untuk umpan komodo, dan perbekalan lain.

Deni sudah menangkap 1.000 komodo untuk dijadikan obyek penelitiannya. Salah satu yang terbesar adalah komodo berbobot 100 kilogram, dengan panjang 3,8 meter dan lingkar ekor 68 cm. Ia bersyukur tidak pernah mengalami cedera berat dalam melakukan tugasnya. ”Jangan sampai tergigit, cuma pernah sekali luka sedikit karena tertancap kukunya,” kata dia.

Deni menggunakan metode terbaru penelitian, multiple macri capture, yang mengombinasikan data terbaru dengan data sebelumnya untuk melihat populasi teranyar komodo. Penyempurnaan metode-metode itu harus dilakukan, mengingat komodo adalah hewan liar dengan cakupan tersebar di TNK yang luasnya mencapai 40.728 hektar dan perairan laut 132.572 hektar.

Sebelum tahun 2003, Deni masih menggunakan metode ekstrapolasi untuk mendapatkan data populasi komodo. Metode itu menggunakan cara menggantungkan umpan di titik-titik tertentu, untuk menghitung jumlah komodo yang terlihat di suatu waktu tertentu. Ternyata akurasi metode ini rendah.

Oleh karena itu, mulai tahun 2003, metodenya diganti dengan cara menangkap, menandai, dan melepas kembali. Kelebihan metode ini adalah tidak terjadi pengulangan, sekaligus diketahui tingkat pertumbuhannya. Dari metode itulah kemudian dikembangkan metode multiple macri capture.

Deni masih berusaha merampungkan penelitian populasi terakhir yang dilakukan mulai tahun 2009. Data 2008 lalu menunjukkan, populasi komodo di tiga pulau terbesar, yaitu Pulau Komodo (33.937 hektar, populasi komodo diperkirakan 1.200 ekor), Pulau Rinca (19.627 hektar, 1.100 ekor), dan Pulau Padar (2.017 hektar, diduga sudah tak dihuni komodo). Selain itu, pulau kecil, Pulau Gili Motang, masih dihuni komodo sekitar 100 ekor.

Di tengah optimisme terhadap kepariwisataan TNK, Deni mengakui adanya kerentanan kawasan itu, komodo dan habitatnya, termasuk pengaruh fenomena perubahan iklim. Karena itu, dia menentang setiap upaya pemindahan komodo. Salah satunya yang pernah diwacanakan adalah pemindahan beberapa komodo dari Wae Wuul, Flores, ke Bali dengan alasan pemurnian genetik.

”Jangan sampai dipindah, lebih baik merawat dan mempertahankannya di habitat asli. Populasi sudah semakin sedikit,” kata Deni.


Editor

Terkini Lainnya

Dishub Jatim: Kecelakaan KA Sritanjung Vs Pajero Tanggung Jawab PT KAI

Dishub Jatim: Kecelakaan KA Sritanjung Vs Pajero Tanggung Jawab PT KAI

Regional
Menggemaskan, Cucu Presiden Jokowi Saat Hadiri Apel Akbar Santri di Solo

Menggemaskan, Cucu Presiden Jokowi Saat Hadiri Apel Akbar Santri di Solo

Regional
Moeldoko: Jokowi-JK Tak Hanya Membangun Infrastruktur, tetapi juga Peradaban Manusia

Moeldoko: Jokowi-JK Tak Hanya Membangun Infrastruktur, tetapi juga Peradaban Manusia

Nasional
Uang Suap untuk Bupati Mojokerto Pernah Diberikan di Kuburan

Uang Suap untuk Bupati Mojokerto Pernah Diberikan di Kuburan

Regional
TKN Klaim Hanya Jokowi yang Meperhatikan Isu Kesetaraan Gender

TKN Klaim Hanya Jokowi yang Meperhatikan Isu Kesetaraan Gender

Nasional
Polisi Turki Temukan Mobil Milik Konsulat Saudi di Istanbul

Polisi Turki Temukan Mobil Milik Konsulat Saudi di Istanbul

Internasional
Ajak Kencan Istri Orang di Tengah Malam, Paranormal Tewas Dibunuh

Ajak Kencan Istri Orang di Tengah Malam, Paranormal Tewas Dibunuh

Regional
Setelah Pemprov DKI Bangun Cukup ITF, Bantargebang Dijadikan Pembuangan Residu

Setelah Pemprov DKI Bangun Cukup ITF, Bantargebang Dijadikan Pembuangan Residu

Megapolitan
BNNK Tangerang Buru Dua Pelajar yang Pasok Tembakau 'Gorila' ke Temannya

BNNK Tangerang Buru Dua Pelajar yang Pasok Tembakau "Gorila" ke Temannya

Megapolitan
Kemendagri Tetap Putuskan Benny Bachtiar Jadi Sekda Kota Bandung

Kemendagri Tetap Putuskan Benny Bachtiar Jadi Sekda Kota Bandung

Regional
Rudiantara: Kita Ini Mudah Sekali Forward Pesan Whatsapp

Rudiantara: Kita Ini Mudah Sekali Forward Pesan Whatsapp

Nasional
Selasa Pagi, Hasil Seleksi Administrasi CPNS Pemprov DKI Akan Diumumkan

Selasa Pagi, Hasil Seleksi Administrasi CPNS Pemprov DKI Akan Diumumkan

Megapolitan
Pengunjung Diskotek Old City yang Positif Pakai Narkoba Jalani Rehabilitasi

Pengunjung Diskotek Old City yang Positif Pakai Narkoba Jalani Rehabilitasi

Megapolitan
Polisi Amankan 3 Orang Terkait Pembakaran Bendera di Garut

Polisi Amankan 3 Orang Terkait Pembakaran Bendera di Garut

Regional
Perludem: Alasan Tim Jokowi-Ma'ruf Tak Tahu Aturan Iklan Kampanye Tak Bisa Dibenarkan

Perludem: Alasan Tim Jokowi-Ma'ruf Tak Tahu Aturan Iklan Kampanye Tak Bisa Dibenarkan

Nasional

Close Ads X