Siapa Sudi Mengajar di Daerah Terpencil?

Kompas.com - 11/01/2011, 17:03 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Program mengajar di daerah terpencil yang diluncurkan Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar diminati para lulusan sarjana (S-1). Program ini menawarkan kegiatan mengajar sebagai media pengembangan diri dan memperkaya pengalaman.

Sebanyak 1.383 lulusan S-1 tercatat mendaftarkan diri dalam perekrutan perdana Gerakan Indonesia Mengajar pada 2010 lalu. Jumlah ini melebihi target semula, yaitu sekitar 500 sarjana. Dari semua pelamar, hanya 51 orang yang diambil.

"Dengan persaingan tinggi, mereka yang dikirim ini adalah mahasiswa-mahasiswa berprestasi pada masa kuliahnya," kata Ketua Gerakan Indonesia Mengajar, Anies Baswedan, saat perekrutan Gerakan Indonesia Mengajar di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Selasa (11/1/2011).

Para sarjana tersebut dikirim dalam program pengabdian sebagai tenaga pengajar muda di daerah-daerah terpencil di Indonesia. Beberapa daerah pengiriman tahap pertama di antaranya Muara Basung, Bengkalis dan Bukit Harapan, serta Mamuju. Program ini berlangsung selama setahun.

Di daerah penempatannya, para sarjana itu bertugas mengajar di sekolah dasar serta bergaul dengan masyarakat setempat. Kegiatan ini hanya bisa diikuti sarjana dengan usia maksimal 25 tahun.

Tahun ini, Gerakan Indonesia Mengajar berencana menambah perekrutan menjadi 200 orang. Sebagian dari mereka akan dikirim ke daerah-daerah perbatasan negara.

Menurut Anies, sampai saat ini masih banyak daerah terpencil di Indonesia yang kekurangan pengajar. Sebagian besar guru enggan dikirim ke daerah-daerah terpencil karena kesejahteraan guru yang dinilai belum memadai.

Anies mengatakan, Gerakan Indonesia Mengajar dimaksudkan untuk memajukan pendidikan di daerah terpencil yang kekurangan guru tersebut. Dengan mengirim sarjana-sarjana berprestasi tinggi ke daerah-daerah tersebut diharapkan dapat mengisi tenaga pengajar berkualitas di daerah-daerah tersebut.

Selain itu, kata Anies, kegiatan tersebut juga dimaksudkan untuk membentuk kepekaan sosial dan mengembangkan jiwa kepemimpinan kepada para peserta. Secara tidak langsung, para pengajar muda itu akan mempelajari kultur dan budaya setempat, serta melihat permasalahan yang ada di daerah. Sebaliknya, masyarakat di daerah terpencil itu juga memperoleh pengetahuan serta berkenalan dengan kultur yang dibawa oleh para pengajar muda.

"Di beberapa tempat yang ditempati, masyarakat setempat belum pernah berkenalan dengan kultur dan budaya di luar budayanya sendiri. Di sana terbentuklah toleransi dan saling memahami satu sama lain," tutur Anies.

Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya UGM, Varani Betty Nur Siwi (20), mengaku sangat tertarik mengikuti program pengabdian tersebut. Salah satunya karena kisah-kisah para peserta pengajar muda dinilai inspiratif.

"Saya merasa ada panggilan untuk berbagi ilmu," ujarnya.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
    EditorLatief

    Terkini Lainnya


    Close Ads X