Dokumentasi Sastra Terkendala Dana

Kompas.com - 24/01/2011, 09:23 WIB
EditorJodhi Yudono

JAKARTA, KOMPAS.com--Alangkah sayangnya jika karya sastra anak bangsa berusia ratusan tahun terbuang begitu saja tanpa sempat dinikmati generasi berikutnya. Oleh karena itulah, Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin Jakarta mendokumentasikan setiap karya sastra yang tercipta agar tidak terbuang percuma. Namun sayangnya, upaya pendokumentasian karya sastra anak bangsa oleh PDS HB Jassin itu terkendala kurangnya biaya.

Kepala Perpustakaan PDS HB Jassin, Endo Senggono mengatakan, keterbatasan dana menjadi kendala pengelola dalam memperluas ruang penyimpanan koleksi. Sementara jumlah karya sastra yang terkumpul semakin lama semakin banyak dan menumpuk.

"Karena kertas yang disimpan, butuh tempat kalau jumlahnya meningkat, bertambah, harus menambah ruang," kata Endo ketika ditemui di PDS HB Jassin, Jakarta, Minggu (23/1/2011).

Keterbatasan dana juga akibatkan keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam merawat koleksi sastra yang umurnya ada yang mencapai ratusan tahun itu. Banyak karya sastra dalam lembaran koran yang belum dikliping.

"Kita tidak bisa mengelola penyimpanan secara baik, artinya banyak menumpuk koran yang belum kita kliping. Itu belum bisa masuk, masih menumpuk," ujar Endo.

Selain itu, pengelola tidak dapat menggunakan teknologi canggih dalam mendokumentasikan karya-karya sastra karena kurangnya biaya. Karya sastra yang sebagian besar berbentuk lembaran kertas itu, kata Endo, membutuhkan ruang khusus dengan pendingin yang menyala 24 jam.

"Kalau kertas, penyimpanannya terkendala faktor iklim, harusnya punya ruang khusus, pendingin yang nyala 24 jam supaya usia semakin lama," paparnya.

Atau, lembaran karya sastra itu didokumentasikan dalam bentuk digital. "Bentuk digital pernah dilakukan tapi masih terbatas dana," imbuh Endo.

Padahal, menurut Endo, mendokumentasikan karya sastra dalam bentuk digital sudah harus dimulai sejak dini sebelum lembaran sastra tersebut rusak dimakan usia.

"Dokumen seperti ini kalau sudah dibeli orang abis, gak ditambah lagi. Sedangkan kalau di sini disimpan terus, mau dibaca atau gak, kita harus simpan, itu prinsip dokumentasi," paparnya.

PDS HB Jassin yang berdiri sejak 1976 itu menyimpan karya sastra dari tahun 1890-an hingga yang terkini. Jika bangsa ini ingin dianggap memiliki karya sastra, kata Endo, lembaga seperti PDS HB Jassin harus mendapat perhatian lebih.

"Jangan dilihat siapa yang bacanya. Yang baca memang hanya dua, tiga, orang. Apa buku itu pernah beredar dan tidak terbit lagi, harus tetap ada kan. Untuk menyimpan itu bukan harga yang murah, harus ada perhatian," tuturnya.

Oleh karena itu, Endo mengharapkan kepedulian bersama dalam menjaga khasanah bangsa tersebut. "Kalau ditanggung pemerintah sendiri, tidak bisa, harus ada kepedulian bersama," tandasnya.



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X