Ketika Musim "Membolos" Tiba...

Kompas.com - 30/01/2011, 09:31 WIB
EditorHeru Margianto

Budi Suwarna

KOMPAS.com — Pak Guru Jamaluddin menatap langit yang mendung dengan wajah cemas. Ketika hujan mulai merintik, dia masuk ke kelas VI dan berkata, ”Anak-anak yang rumahnya di dalam (hutan) lekas pulang.”

Desi (12) yang sedang asyik belajar Matematika dengan alat peraga kartu remi segera mengemasi buku. Sejurus kemudian, dia dan lima murid lainnya dari kelas berbeda setengah berlari pulang menuju dusunnya, Tatibajo, yang berada di tengah hutan.

Setiap hujan, hampir semua orang di Sekolah Dasar 27 Tatibajo di Dusun Manyamba, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, menjadi cemas. Betapa tidak, limpahan air hujan membuat Sungai Manyamba meluap. Saat itulah jalan setapak di sisi sungai sebagian tenggelam. Padahal, itu adalah jalan pergi-pulang satu-satunya bagi sejumlah murid yang tinggal di Dusun Tatibajo di tengah hutan.

”Kalau sungai meluap, saya tidak bisa pulang. Jalan setapak tidak kelihatan lagi,” ujar Salim (10), murid kelas IV asal Dusun Tatibajo, yang hanya bisa dijangkau dengan jalan kaki selama 1-2 jam dari sekolahnya di Manyamba.

Pada musim hujan, kelas pun berubah menjadi sepi. Pasalnya, sebagian besar murid yang tinggal di permukiman di tengah hutan tidak berani datang ke sekolah. Tidak heran angka membolos sekolah pun menjulang tinggi. Pada Kamis (20/1) siang hanya enam dari 13 murid kelas IV yang masuk sekolah. Di kelas VI hanya lima dari 13 siswa yang datang.

”Setahun, rata-rata ketidakhadiran siswa 30 persen. Sebenarnya, seminggu saja tidak masuk tanpa kabar, siswa bisa kami berhentikan. Tapi, kalau aturan itu dipakai, bisa habis murid saya,” ujar Jamaluddin.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Repotnya musim hujan

Musim hujan juga merepotkan para guru yang tinggal jauh dari sekolah. Jamaluddin yang menjabat Kepala SD 27 menceritakan, setiap hari dia harus melalui jalan tanah berbatu menuju sekolah sejauh 6 kilometer dari rumahnya di daerah pantai. Jalan itu diapit tebing yang mudah longsor dan sungai yang airnya mudah meluap. Jika jalan tenggelam, dia tidak bisa ke sekolah.

Pada musim hujan, jalan menuju tempatnya mengajar menjadi sangat licin. Sebagian bahkan jadi aliran sungai. Batu-batu besar setiap saat menggelinding dari atas bukit. ”Saya jatuh beberapa kali dari motor ketika berangkat kerja. Sekarang saya memilih memarkir motor di pinggir tebing, kemudian saya jalan kaki ke sekolah,” katanya.

Halaman:
Baca tentang


    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.