Ketika Musim "Membolos" Tiba...

Kompas.com - 30/01/2011, 09:31 WIB
EditorHeru Margianto

Jamaluddin juga pernah tidak bisa pulang ke rumah karena jalan yang biasa dia lalui tersapu banjir. ”Terpaksa saya menginap di rumah warga Dusun Manyamba,” ujarnya.

Kisah seperti itu juga dialami guru-guru lain yang bertugas di daerah-daerah terpencil di Battutala, Passau, dan Lombang. Untunglah, sekarang ada para pengajar muda dari Gerakan Indonesia Mengajar (GIM) yang umumnya tinggal di dekat sekolah. Jika bapak/ibu guru berhalangan hadir, mereka siap menggantikannya.

”Saya pernah jadi satu-satunya guru yang datang ke sekolah. Terpaksa saya mengajar kelas I sampai kelas VI sekaligus,” ujar Soleh Ahmad Nugraha, pengajar muda GIM yang bertugas di SD 25 Lombang, Malunda, Majene.

Murid bisa habis

Alam hanya satu faktor. Ada faktor lain yang membuat murid SD di sana sering membolos, yakni kebiasaan tinggal di ladang ketika panen. Yani, guru SD 25 Passau, mengatakan, warga Passau, misalnya, umumnya memiliki ladang di tengah hutan yang jauh dari dusun. Bahkan, sebagian punya ladang di kabupaten lain, seperti Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, yang ditempuh dalam perjalanan dua hari dua malam dengan kapal laut.

Ketika musim panen atau pembukaan ladang baru tiba, mereka membawa anak-anaknya tinggal di ladang. ”Kalau sudah begitu, mereka bisa bolos dua bulan,” ujar Yani.

Tahun lalu, ujar Yani, ada enam muridnya yang ”menghilang” karena ikut orangtuanya panen cengkeh di Tolitoli.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Yani juga pernah mengalami hal itu ketika duduk di bangku SD. Orangtuanya mengajak Yani tinggal di Tolitoli selama musim panen cengkeh. Di sana Yani tinggal enam bulan. Selama itu dia bolos sekolah.

Putus sambung

Bagaimana jadinya dengan proses belajar-mengajar? Pastinya putus-nyambung. ”Tidak heran jika kami masih sering menjumpai murid yang belum lancar membaca meski telah duduk di kelas V,” kata Agung Firmansyah, pengajar muda GIM di SD 27 Tatibajo.

”Mereka juga belum menguasai bahasa Indonesia dengan baik. Akibatnya, proses belajar-mengajar sering enggak nyambung. Saya tanya, sebutkan rumah-rumah adat di Indonesia? Mereka jawab, ’rumah harus rapi dan bersih’. Pusing, kan?” kata Erwin Puspaningtyas Irjayanti, pengajar muda GIM di SD 25 Passau.

Dengan situasi seperti itu, pihak sekolah hanya berani menetapkan angka standar kelulusan ujian akhir sekolah berstandar nasional (UASBN) rata-rata 2-2,5, atau hanya dua poin lebih besar dari nol!

Begitulah wajah pendidikan dasar di Majene yang bisa jadi mencerminkan situasi pendidikan di daerah terpencil lain di Tanah Air. Barangkali, tidak semua problem itu diketahui para pejabat pemerintah yang beberapa tahun terakhir terlalu sibuk mengotak-atik formula ujian nasional.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
Baca tentang


    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.