Cerita tentang Mimpi Mengabdi Negeri...

Kompas.com - 30/01/2011, 10:12 WIB

Myrna ratna dan Try haryono

KOMPAS.com - ”Izinkan anak-anak SD di pelosok itu mencintai, meraih inspirasi, dan berbinar menyaksikan kehadiranmu. Dan yang terpenting, Anda sebagai anak terbaik telah ikut—sekecil apa pun—mendorong kemajuan, mengubah masa depan mereka menjadi lebih cerah....”

Itu adalah sepenggal isi e-mail dari Anies Baswedan yang merupakan kata-kata perpisahannya mengantar keberangkatan 51 pengajar muda ”Indonesia Mengajar” menuju dusun-dusun di pelosok Indonesia, awal Desember lalu. Dalam suratnya yang menyentuh itu, Anies menyebutkan bahwa mereka adalah anak-anak usia muda yang meninggalkan kenyamanan hidup.

Ke-51 pengajar muda itu (Baca: Mereka yang Dibutuhkan Negeri Ini) merupakan orang-orang muda terpilih, bahkan mungkin yang terbaik di generasinya. Banyak di antara mereka yang telah hidup mapan dengan gaji yang sangat memadai. Tetapi mereka kemudian banting setir, untuk sebuah mimpi bersama: ingin mengabdi kepada negeri tercinta, ingin menyatu dengan rakyat jelata. Mereka memutuskan menjadi guru SD di desa-desa tanpa listrik.

”Saya terinspirasi oleh ucapan Pak Anies dalam sebuah seminar bahwa fresh graduate saat ini cuma punya indeks PK (prestasi kumulatif) tinggi, tetapi cara berpikirnya tidak terstruktur, cara bicaranya tidak sistematis. Pas denger itu, saya berpikir, loh kok kayak saya banget,” kata Nesia Anindita, anak Jakarta yang tinggal di kawasan elite di Kebayoran Baru dan memperoleh penempatan mengajar di Balai Pungut, Kecamatan Pinggir, Bengkalis.

Nesia kemudian mendaftarkan diri menjadi kandidat Indonesia Mengajar, bersama sekitar 1.382 pelamar lainnya. Dari jumlah ini, yang tersaring hanya 51 orang, termasuk dirinya.

Digembleng

Namun, perjuangan berat itu barulah dimulai. Selama delapan minggu mereka digembleng mental, fisik, intelektual, di sebuah wisma pelatihan di Desa Pancawati, Ciawi, Jawa Barat. Dari pukul 04.00 subuh sampai pukul 22.00 malam.

Untuk membiasakan diri di tempat terpencil yang dipastikan tidak ada aliran listrik, tidak ada sinyal telepon, tidak ada internet itu, sejak pukul 22.00 sampai menjelang subuh, listrik di tempat pelatihan dimatikan dan semua telepon genggam diserahkan kepada panitia.

Betul, penggemblengan mental dan disiplin selama pelatihan sangat keras. Para calon pengajar itu bahkan harus lulus pelatihan survival di hutan dan rimba di bawah bimbingan Rindam (Resimen Induk Kodam).

”Di sini mereka yang takut ketinggian, takut air, akan ditangani, karena medan yang akan mereka hadapi membutuhkan persyaratan ini. Untuk yang takut air, misalnya, ada pelatihan renang, termasuk survival di sungai. Mereka juga diajari bagaimana bikin air jernih sampai air yang bisa diminum. Mereka juga belajar 12 daun yang bisa dimakan di hutan, bisa hidup dengan berbekal gula merah,” kata Ahmad Sjhahid, fasilitator program ini yang sekaligus menjadi ”bapak asuh” para calon pengajar muda.

Tantangan terberat tentulah proses transformasi ilmu, karena para calon pengajar ini bukan saja harus mengikuti panduan kurikulum nasional, tetapi juga harus menggabungkannya dengan cara mengajar yang kreatif. ”Apalagi mereka sama sekali tidak punya pengalaman mengajar sebelumnya,” tambahnya.


Halaman:
Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
    EditorHeru Margianto

    Close Ads X