Tamu Istimewa di Tengah Hutan

Kompas.com - 30/01/2011, 10:39 WIB
EditorHeru Margianto

KOMPAS.com — Firman Budi Kurniawan, pengajar muda dari Gerakan Indonesia Mengajar, adalah tamu istimewa. ”Dia orang asing pertama yang mau tinggal lama di dusun ini,” ujar Saparuddin (38), Kepala Dusun Beroangin, Battutala, Malunda, Majene.

Dusun ini terletak di tengah hutan, diapit bukit-bukit. Dulu, kata Saparuddin, tidak ada orang yang berani datang ke sini. ”Ini dianggap daerah keramat dan banyak hantunya,” katanya.

Dia bercerita, penduduk Beroangin sebelumnya tinggal di Ulumanda, desa yang katanya paling ujung di Majene. ”Untuk menjual dua pikul biji cokelat saja, kami harus jalan kaki 1 hari 1 malam menembus hutan menuju Pasar Malunda,” ujarnya.

Tahun 1989, mereka bedol desa ke Beroangin. Di hutan yang dianggap keramat itu, mereka membuka ladang, menanam sayur, kakao, dan kemiri. ”Kami sempat kelaparan sebelum masa panen tiba,” ujar Badarawi (50).

Kini, Beroangin mulai ramai. Ada 66 keluarga tinggal di sini. Mereka hidup dari kebun kakao, kemiri, dan langsat (semacam duku) yang tumbuh subur. Namun, persoalan yang mereka hadapi masih sama: tidak ada akses listrik dan jalan mulus ke kota kecamatan. Yang ada hanya jalan setapak berbatu dan membelah rimba. Hampir mustahil melalui jalan setapak itu dengan mobil.

Firman tahu hidup yang akan dijalaninya di tempat baru ini bukan hidup yang mudah. Ia tidak sendiri. Ada 50 pemuda lain yang memilih dengan sadar untuk meninggalkan kemapanan dan banting stir menjadi guru di tempat terpencil.

Menjadi guru sekolah dasar di daerah terpencil atau menjadi Pengajar Muda merupakan program dari ”Indonesia Mengajar” yang digagas Anies Baswedan yang juga Rektor Universitas Paramadina, Jakarta. Ide dasarnya, masih banyak sekolah dasar di daerah terpencil yang dibimbing guru-guru yang kualitasnya tidak sesuai dengan standar.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tidak hanya berkutat soal pelajaran, para pengajar muda juga bergelut dengan kesulitan hidup masyarakat. Selasa (18/1/2011) malam, Arman, warga Beroangin yang baru pulang merantau dari Balikpapan, terserang malaria. Tubuhnya tergolek lemah tak berdaya. Warga berencana akan memikulnya—seperti memikul biji cokelat—ke puskesmas di kota kecamatan. Itulah satu-satunya cara yang bisa dilakukan warga untuk membawa orang yang sakit ke kota.

Pukul 03.00, teriakan keras menggema di dusun itu, ”Arman mate... Arman mate (meninggal).” Ya, nyawanya melayang tanpa sempat tersentuh tangan dokter.

Firman, si tamu asing pertama di dusun itu, menjadi saksi setumpuk kesulitan hidup di daerah terpencil. ”Saya tidak mungkin lupa,” katanya.

Penggagas Gerakan Indonesia Mengajar, Anies Baswedan, mengatakan, selain mengisi kekosongan guru, program ini juga dimaksudkan untuk memberikan pengalaman hidup kepada sarjana peserta. ”Mereka tidak akan lupa dengan kehidupan di desa meski mereka telah menjadi CEO atau menteri sebab mereka punya akar di sana,” ujarnya. (BSW)

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.