Dapat Voucer Rp 10.000, Disangka Maling

Kompas.com - 04/04/2011, 14:01 WIB
EditorHertanto Soebijoto

JAKARTA, KOMPAS.com — Seorang siswa kelas II SMP, Deli Suhandi (14), kini mendekam di Rumah Tahanan Pondok Bambu, Jakarta Timur, atas tuduhan mencuri voucer kartu perdana telepon seluler seharga Rp 10.000. Peristiwa terjadi saat Deli bersama kedua sahabatnya, Rahmat Wibowo (14) dan Muhamad Luki (14), pulang dari sekolah dan menyaksikan tawuran antarwarga di kawasan Johar Baru, Kamis (10/3/2011).

"Kami jalan kaki pulang sekolah. Tiba-tiba denger suara tembakan dari Gang 12. Ternyata ada tawuran. Kami takut, jadi langsung lari aja dan ngumpet di konter pulsa," tutur teman Deli, Luki, kepada Kompas.com seusai konferensi pers di kantor Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) Jakarta, Senin (4/4/2011).

Di sekitar konter pulsa yang sudah dirusak oleh massa yang terlibat tawuran, Deli menemukan sebuah voucer perdana telepon seluler senilai Rp 10.000 yang sudah berada di tanah. Deli mengambil voucer tersebut dan diberikan kepada Bowo agar disimpan dahulu.

"Deli yang ngambil voucer itu. Voucernya memang sudah jatuh, konternya aja sudah rusak. Habis ngambil, voucer dikasih ke Bowo. Bowo malah diteriakin maling sama polisi. Kartunya dilempar ke saya terus saya buang lagi ke jalan karena takut," kisah Luki.

Luki langsung ditangkap oleh polisi setelah kejadian tersebut dan sempat dipukul oleh aparat dan dibawa ke Polsektro Johar Baru. Sehari setelah penangkapan Luki, Deli dan Bowo diciduk oleh kepolisian pada Jumat (11/3/2011) pagi.

"Bowo dipukul mukanya dan punggungnya. Saya dan Deli juga dipukul. Polisi ngirain kami yang ngerusak konter pulsa pas tawuran terus ngambil voucer. Padahal voucer itu cuma nemu," ujar Luki.

Ketiga siswa SMP Islam Al Jihad itu diperiksa oleh penyidik tanpa didampingi orangtua dan penasihat hukum. Mereka dituduh melakukan pencurian dengan kekerasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 363 KUHP dengan ancaman tujuh tahun penjara. Bahkan, polisi sempat menuduh ponsel yang dibawa oleh Luki adalah barang curian.

"Saya cuma sehari ditahan. Jumat malam saya dilepas dengan Bowo. Deli aja yang tetap ditahan," ungkap Luki.

Pihak PBHI bersama keluarga sempat mendatangi Polsektro Johar Baru untuk berusaha melepaskan ketiga anak itu. Namun, Deli tetap ditahan karena berdasarkan kesaksian kedua temannya, dia yang menemukan voucer tersebut. Status Luki dan Bowo pun sekarang hanya menjadi saksi.

Hingga berita ini diturunkan, pihak PBHI terus mengupayakan permohonan penangguhan terhadap Deli Suhandi. Upaya ini dilakukan mengingat ancaman kurungan yang akan diterima tidak sebanding dengan kerugian dari dugaan tindakan tersebut, yaitu putus sekolah.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.