Kritik PTN terhadap UN Sah-sah Saja

Kompas.com - 07/04/2011, 13:09 WIB
EditorInggried

JAKARTA, KOMPAS.com — Komisi X DPR RI menilai, kritik tajam para rektor perguruan tinggi negeri terhadap kredibilitas hasil ujian nasional yang belum dapat dijadikan parameter masuk perguruan tinggi negeri adalah wajar. Perguruan tinggi negeri (PTN) punya parameter sendiri dalam mencetak lulusannya, sementara ujian nasional memang masih perlu perbaikan untuk dilihat lagi tahun ini.

"Sah saja PTN berpendapat demikian. Mereka ingin punya ujian sendiri untuk menyeleksi mahasiswanya. Ujian nasional (UN) sedang berproses mencapai satu standar yang benar-benar pas sehingga nantinya PTN juga tidak bisa kaku lagi seperti itu. Kritik PTN itu lebih pada content UN. Itu harus diterima dan diperbaiki," ujar Utut Adianto, anggota Komisi X DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, dalam diskusi seminar "Mengupas UN & Formula Terbaru Kelulusan" yang diselenggarakan harian Warta Kota di Ballroom Gedung Kompas Gramedia, Jakarta, Kamis (7/4/2011).

Utut menambahkan, UN tahun ini tetap diselenggarakan karena perlu dan wajib. Ukuran naik kelas atau lulus tes tetap harus melalui ujian yang saat ini sebetulnya semakin longgar.

Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Taufik Yudi Mulyanto, yang juga hadir sebagai pembicara, mengatakan bahwa tidak dimungkiri masih adanya penghalang antara pendidikan tinggi dan pendidikan menengah. Kebutuhan keduanya masih belum bertemu di satu titik yang tepat.

"Belum ada benang merah antara kebutuhan PTN dan output dari lulusan pendidikan menengah melalui UN. Tes masuk PTN lebih fokus ke arah kriteria teknis, sementara UN masih umum karena memang itulah pembelajaran mereka di jenjang dikmen (pendidikan menengah)," ujar Taufik.

Diberitakan sebelumnya, Rabu (6/4/2011), sejumlah program studi di PTN membutuhkan kompetensi khusus bagi calon mahasiswanya sehingga nilai UN tetap tidak bisa dijadikan parameter masuk PTN. Sejumlah rektor PTN menolak nilai UN dijadikan parameter masuk PTN karena dinilai masih banyak masalah dalam penyelenggaraannya.

Pembantu Rektor I Universitas Negeri Makassar (UNM) Prof Sofyan Salam mencontohkan, Fakultas Ilmu Keolahragaan UNM memberlakukan tes fisik dan wawancara selain tes tertulis untuk para calon mahasiswa. Sementara itu, kenyataannya, kompetensi dalam ilmu keolahragaan selama ini tidak diuji dalam UN.

Fakultas Seni dan Desain juga menerapkan ujian keterampilan dan seni bagi para pelamar. Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Priyo Suprobo juga mengatakan, saat ini masih sulit menjadikan nilai atau hasil UN sebagai paramater.

"Pertama, ya itu tadi, belum dilaksanakan saja sudah bocor duluan. Saya dan kita tentu masih ingat ucapan Ketua Majelis Rektor PTN tahun lalu bahwa PTN akan melihat hasil UN tahun 2011. Kalau kredibel, akan kita pertimbangkan sebagai parameter. Nyatanya kan tidak," ujar Priyo. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.