Rektor UI: "Pancasila, Harga Mati!"

Kompas.com - 09/05/2011, 12:27 WIB
EditorLatief

JAKARTA, KOMPAS.com - Pancasila merupakan hal terpenting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Dalam dunia pendidikan, ideologi Pancasila menjadi modal awal menciptakan generasi muda menjadi insan yang terpadu.

Demikian diungkapkan Rektor Universitas Indonesia Gumilar Rusliwa Sumantri, saat ditemui Kompas.com di Universitas Indonesia, Depok, Jumat (6/5/20211). Berikut petikannya;

Sejauh apa peran ideologi Pancasila dalam dunia pendidikan tinggi saat ini?

Pancasila itu harga mati, tidak bisa ditawar. Wong, adanya negeri ini, adanya universitas ini, karena adanya Pancasila dan UUD 45.

Apakah peran ideologi itu semakin berkurang, belakangan NII masuk ke sendi-sendi pendidikan dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi, termasuk di UI. Bagaimana menurut Anda? 

Saya akui, saat ini banyak terjadi kasus yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila, salah satunya fenomena gerakan Negara Islam Indonesia (NII) yang sudah merambah dalam institusi-institusi pendidikan. Di UI Indonesia sendiri, dulu sekitar lima sampai sepuluh mahasiswa pernah terjerumus gerakan NII,. Saat ini, gerakan NII sudah jauh berkurang di lingkungan kampus.

Memang benar, NII marak di UI itu dari lima tahun lalu, itu pada zaman saya masih menjadi dekan. Makanya, saya heran, kok baru sekarang digembor-gemborkan. Kita mah dari dulu sudah berjuang melawan NII di kampus.

Bagaimana UI mengatasi persoalan NII?

Pendidikan Kewarganegaraan harus diperkuat. Walaupun saat ini mata pelajaran Pancasila sudah tidak ada, namun nilai ideologi Pancasila masih tertuang dalam mata pelajaran lainnya, salah satunya dalam Kewarganegaraan.

Artinya, Pancasila tergantikan oleh Kewarganegaraan?

Bukan, itu hanya namanya saja, jangan dulu berburuk sangka. Yang jelas, Pancasila dan UUD '45 itu penting bagi para mahasiswa. Tetapi, mengemasnya seperti apa? Dikemas menjadi hal yang sangat acceptable oleh anak-anak muda, agar mereka enjoy untuk meresapnya. Oleh karena itu, perlu kreatifitas dalam kurikulumnya, termasuk nama.

Ada hal-hal khusus dilakukan UI untuk menangkal gerakan-gerakan seperti NII?

Kegiatan-kegiatan kemahasiswaan perlu mendapat perhatian khusus. Perhatian khusus tersebut  dilakukan dengan cara memperkuat kegiatan-kegiatan kemahasiswaan. Hal ini dimaksudkan agar mahasiswa mempunyai kesibukan, sehingga tidak memikirkan untuk bergabung dengan gerakan NII.

Aktivitas seperti ospek (orientasi studi pengenalan kampus) atau sebagainya harus dimanfaatkan secara betul. Misalnya, dengan diperkenalkan pelatihan ESQ, lalu workshop bagaimana berorganisasi dengan baik, banyak lagi.

Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    Close Ads X