Inovasi Perguruan Tinggi Tunggu Industri

Kompas.com - 10/05/2011, 04:35 WIB
Editor

Bandung, Kompas - Inovasi teknologi mahasiswa dan dosen hingga kini tidak sepenuhnya disentuh industri. Hasilnya kerap terhenti pada kompetisi nasional dan internasional.

”Komunikasi periset dan industri perlu dijalin,” kata Rektor Institut Teknologi Bandung Akhmaloka pada ”Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Students Innovation Expo” di Bandung, Jawa Barat, Senin (9/5).

Sebanyak 13 hasil inovasi mahasiswa STEI ITB dipamerkan. Sebagian besar juara kompetisi nasional dan internasional, seperti robot berkaki enam karya Tim ASA (mahasiswa Program Studi Teknik Elektro STEI) yang juara I dan II kompetisi robot berkaki pada ”Trinity Fire Fighting Robot Contest 2011” di Amerika Serikat.

Ada pula pembangkit listrik tenaga air skala pikohidro. Riset itu juara II ”Place of IEEE President’s Change The World Competition”, AS, tahun 2010.

Temuan lain Tim Resep Elektronik berupa alat bantu proses pencatatan data pasien, pemakaian obat, dan deteksi interaksi/reaksi obat yang diresepkan merugikan atau tidak. Tim itu juara ”Indonesia Information and Communication Technology Award 2010 in The Category of a Government”.

Ada pula aplikasi edukasi komputer bagi sekolah dengan jumlah komputer terbatas. ”Kami mengaplikasikan satu komputer untuk enam siswa. Dapat dikembangkan satu komputer untuk 30 siswa. Caranya memperbanyak tetikusnya,” kata Puja Pramudya, ketua tim pengembangan.

Kreasi seni

Beberapa mahasiswa STEI ITB juga menampilkan teknologi menjadi kreasi seni, di antaranya simulasi bunyi-bunyian gamelan pada layar telepon genggam. Ada enam peralatan pada aplikasi itu, yakni gong, gambang, kendang, bonang, saron, dan jengglong.

Aplikasi itu bisa diunduh gratis di Ovi Store, pusat pengunduhan aplikasi khusus untuk telepon seluler Nokia. ”Program ini diunduh 12.000 orang dalam waktu dua bulan, umumnya dari luar negeri sampai 11.000 orang,” kata Ihwan Adam Ardisasmita, yang mengembangkannya.

Ada lagi Thousand Hands Revolution memanfaatkan sensor pada bahu, paha, telapak tangan, punggung tangan, dan sikut untuk menghasilkan gerakan tari saman dari Aceh. ”Ini ajakan pada generasi muda melek teknologi agar tak melupakan budayanya,” ujar Karina Asrimaya, anggota tim pembuat Thousand Hands Revolution. (ELD/NAW)



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X