Sekolah dan Kampus Hanya Pembantu...

Kompas.com - 10/05/2011, 10:51 WIB
EditorLatief

JAKARTA, KOMPAS.com — Saat ini semakin marak kasus tawuran, seks bebas, kecurangan ujian nasional, atau tindak plagiat skripsi di kalangan siswa dan mahasiswa. Hal itu menjadikan pendidikan karakter sebagai tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan di Indonesia dengan beragam masalahnya.

Ketua Yayasan Cahaya Guru Henny Supolo Sitepu mengatakan, memang tidak mudah mengatasi tantangan-tantangan itu. Menurut dia, setiap pilihan seseorang sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dia pegang. Dalam kasus ini, Henny menekankan para pendidik untuk menanamkan nilai-nilai karakter kepada anak didik.

"Pada awal dan pada pokoknya tentu saja orangtua, ditambah kemudian dengan lingkungan tempat anak berkembang, baik di sekolah, rumah, maupun di antara teman-temannya," ujar Henny kepada Kompas.com di Jakarta, Selasa (10/5/2011).

Peran sekolah atau perguruan tinggi hanya sebagai pembantu. Menurut Henny, pendidikan anak pada dasarnya justru dikembangkan oleh orangtua karena orangtua tetap merupakan pendidik utama anak.

"Contoh berperan besar dalam proses pembelajaran anak. Karena itu, saat kita membicarakan perilaku tidak terpuji, pertanyaannya adalah seberapa jauh lingkungan memiliki andil dalam pembentukan perilaku yang tidak diinginkan tersebut? Maka, cara penanganannya pun perlu melalui pengkajian yang utuh, dengan menyertakan lingkungan," jelas Henny.

Selain itu, kesempatan-kesempatan juga perlu diberikan kepada anak dalam kegiatannya sehari-hari. Henny mencontohkan kesempatan yang diberikan kepada anak untuk membantu pengasuhnya ikut membereskan kamarnya sendiri. Hal itu secara tidak langsung membiasakan anak bertanggung jawab pada lingkungannya.

"Kemandirian adalah bagian penting dari pengembangan karakter seorang anak. Tetapi, semua itu tidak ada artinya tanpa contoh konkret yang diperlihatkan oleh orang-orang dewasa di sekitar si anak," ujarnya. 

Ia menambahkan, kejelian guru dan orangtua untuk bersama-sama anak menemukan peran yang bisa dilakukan anak untuk memperbaiki lingkungannya merupakan hal penting dalam pembentukan karakter anak. Seorang anak yang biasa berperan, ikut memperbaiki lingkungan, tidak akan memusatkan perhatian pada kesalahan orang lain, tetapi pada "bagaimana saya bisa membantu lingkungan".

Oleh karena itu, penekanan pada akademis tidak ada hubungannya dengan menipisnya nilai-nilai yang harusnya dijunjung oleh setiap anggota sivitas akademika. Sebab, menurut Henny, penanaman nilai-nilai yang berlangsung selama siswa berada di lembaga pendidikan tersebut tidak terlepas sebagai mata pelajaran, apalagi hafalan semata.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.