Rektor PTN Jatim Usulkan P4 Diajarkan

Kompas.com - 20/05/2011, 18:50 WIB
EditorBenny N Joewono

SURABAYA, KOMPAS.com — Rektor Perguruan Tinggi Negeri (PTN) se-Jawa Timur yang tergabung dalam Paguyuban Rektor PTN Jatim mengusulkan mata pelajaran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) diajarkan lagi di sekolah dengan metode non-doktrinisasi.

"Rektor dari sembilan PTN se-Jatim sepakat mengawal empat pilar bangsa, yakni Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI melalui usulan konkret," kata Wakil Rektor I Unair Prof Dr Achmad Syahrani MS, di Surabaya, Jumat (20/5/2011).

Di sela peluncuran Web Blog Guru Indonesia menyambut Harkitnas, ia menjelaskan, usulan konkret yang dibahas rektor se-Jatim dalam pertemuan rutin di kampus Unair pada Kamis (19/5/2011), antara lain, pengajaran P4 non-doktrinisasi sebagai implementasi Empat Pilar Kebangsaan.

"Kami juga mengusulkan upacara bendera pada setiap hari Senin dijadikan tradisi lagi, termasuk menyanyikan lagu kebangsaan harus menjadi pembiasaan di dunia pendidikan," katanya.

Menurut dia, usulan itu akan dimatangkan para rektor PTN se-Jatim untuk diimplementasikan dan juga disampaikan ke Majelis Rektor PTN se-Indonesia serta diteruskan ke Ditjen Pendidikan Tinggi Kemdiknas.

"Materi P4 nantinya alam mengedepankan keteladanan, kemajemukan, dan nilai-nilai puncak yang digali bangsa ini, apalagi kita mempunyai Laboratorium Pancasila di Universitas Negeri Malang," katanya.

Selain itu, Unair juga akan menjadi tuan rumah Kongres III Pancasila pada 31 Mei-1 Juni mendatang yang akan dihadiri oleh Ketua MPR Taufiq Kiemas, Mendagri Gamawan Fauzi, Prof Syafii Ma'arif, Prof Jimly Asshiddiqy, Gubernur Jatim Soekarwo, Pdt Simon Filatropha, dan pengusaha Alim Markus.

"Yang jelas, upaya pengajaran yang berbasis Empat Pilar Kebangsaan itu penting untuk mengantisipasi maraknya gejala ekstremisme, radikalisme, liberalisme, dan sejenisnya," katanya.

Secara terpisah, Rektor ITS Prof Triyogi Yuwono mengatakan, para rektor PTN se-Jatim memang sepakat mengawal Empat Pilar Kebangsaan untuk mengantisipasi radikalisme ala NII.

"NII itu organisasi eksklusif. Karena itu, pembinaan kegiatan kemahasiswaan ke depan tidak boleh eksklusif lagi. Kami sepakat untuk merancang kegiatan kemahasiswaan yang integral sehingga ada kebersamaan dalam kebinekaan," katanya.

Ia menilai eksklusivisme di kalangan mahasiswa itu karena ada sekelompok mahasiswa yang tidak diopeni (dilayani). Karena itu, kegiatan kemahasiswaan ke depan harus terintegrasi dengan melibatkan semua jurusan.

Sementara itu, Kepala Humas Rektorat Unair Dr Mangestuti Agil Apt mengatakan, para rektor PTN se-Jatim juga melakukan evaluasi pelaksanaan ujian nasional (UN) karena PTN menjadi pengawas UN.

"Hasil evaluasi kami masih ada nilai US (ujian sekolah) atau nilai rapor yang didongkrak agar lulus, ada pengawas ruangan yang tidak mengawasi, dan percetakan yang jauh sehingga memengaruhi UN," katanya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.