Student Visa Kendala Internasionalisasi

Kompas.com - 07/06/2011, 20:49 WIB
EditorBenny N Joewono

BALI, KOMPAS.com - Internasionalisasi bidang pendidikan tinggi tidak bisa berjalan satu arah atau bukan hanya mahasiswa Indonesia menuntut ilmu ke luar negeri, tapi dalam pengertian sebanyak mungkin mahasiswa asing harus belajar di Indonesia.

Demikian diungkapkan oleh Direktur Kelembagaan dan Kerjasama Dikti Kemdiknas Achmad Jazidie dalam paparannya pada seminar dan workshop "Internationalisation on Higher Education: Challenges and Opportunities for Indonesian-Dutch Academic Collaboration" di Bali, Selasa (7/6/2011).

Jazidie mengatakan, Pemerintah dalam hal ini mendukung perguruan tinggi baik negeri dan swasta untuk "go international" melalui kolaborasi internasional.

"Kolaborasi dengan Belanda misalnya, kita punya potensi yang mereka tidak punya seperti studi terkait vulkanologi, juga seni dan budaya yang beragam. Sejauh ini kita belum menarik banyak mahasiswa asing kecuali melalui program berbeasiswa pemerintah, yaitu Darmasiswa, yang tahun lalu sudah mencapai 700 mahasiswa," ujar Jazidie.

Sayangnya, Indonesia belum juga bisa menargetkan jumlah pelajar Internasional yang masuk ke Indonesia karena kesiapan pemerintah sendiri belum maksimal. Salah satunya adalah penerbitan "student visa" bagi mahasiswa-mahasiswa asing.

"Kita inginnya urusan visa pelajar ini selesai kan, ternyata ini jadi kendala. Masa'k urus perizinan kuliah 'ribet' sampai ke RT/RW, kelurahan atau kepolisian. Sistem kita masih terlalu birokratif. Saya akan bahagia sekali kalau ada student visa saat ini," kata Jazidie.

Ia menambahkan, saat ini belum terbentuk sinergi yang maksimal dari beberapa institusi pemerintah antara Kemdiknas, Kemenlu, Dinas Imigrasi untuk urusan student visa.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sebagai jalan keluar, untuk sementara ini Dikti Kemdiknas tengah menyiapkan sistem administrasi online bagi pelajar asing yang ingin kuliah di Indonesia.

"Sistem ini akan diluncurkan Agustus 2011 mendatang. Selain itu, saya rasa, kita harus memperkuat kantor kelembagaan urusan internasional di perguruan tinggi masing-masing," ujarnya.

Sementara itu, Direktur Nuffic Neso Indonesia Marrik Bellen mengatakan perlu dibangun dan diperkuat sebuah forum yang berkesinambungan untuk saling memahami dan berbagi tentang manfaat dari kerjasama pendidikan tinggi antara kedua negara.

"Konsep internasionalisasi ini harus ada benefit bagi kedua belah pihak. Kerjasama tidak akan terjadi kalau tidak ada saling menguntungkan," ujarnya.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.