Jadi "Juara" Tanpa Tayangan Televisi - Kompas.com

Jadi "Juara" Tanpa Tayangan Televisi

Kompas.com - 19/06/2011, 17:36 WIB

SEMARANG, KOMPAS.com — Kegelisahan orangtua terhadap dampak televisi bagi perkembangan anak ternyata tak hanya didominasi kalangan menengah atas saja. Kalangan bawah juga merasakan kekhawatiran yang sama. Setidaknya hal itu yang tertangkap dalam parenting school SD Juara Semarang, Minggu (19/6/2011).

Menghadirkan pembicara Budi Maryono, seorang penulis buku dan pegiat pendidikan, para orangtua murid sangat antusias mendengarkan ceramah interaktif selama satu jam itu. "Pada dasarnya, televisi itu sihir yang akan menghipnotis siapa pun yang melihat di depannya," kata Budi Maryono.

Apa pun tayangan televisi itu, tambah Budi, motivasi pertamanya adalah mengeruk laba dengan menjual penonton. Meski demikian, memang masih ada tayangan yang cukup inspiratif. "Tidak memiliki TV juga bukan suatu solusi karena bisa saja anak akan nonton di tempat tetangga. Yang pasti, ada dua cara menghindari dampak buruk TV. Pertama, menghindar. Kedua melawan dengan pertahanan diri yang cukup," tambahnya.

Pertahanan diri yang paling baik adalah dengan pembiasaan menyaksikan tontonan yang bermutu bagi anak-anak. Kalau dibiasakan melihat tayangan yang berkualitas, anak akan menyeleksi sendiri tayangan yang bermanfaat. "Kalau saya, anak-anak sejak kecil sudah terbiasa melihat film-film yang bagus, seperti Lion King, Spirit, dan sejenisnya," ujar Budi.

Dengan pembiasaan itu, mereka juga jadi terbiasa membaca bacaan yang berkualitas. "Kalau ada sinetron, anak-anak akan bilang ...ah lebay...," katanya.

Parenting school ini dihelat SD Juara Semarang dimaksudkan agar ada sinkronisasi pembelajaran di sekolah dan di rumah. Menurut Joko Kristiyanto, Kepala SD Juara, meskipun sekolah ini gratis, kualitas pembelajaran tetap dinomorsatukan.

"Kami juga menjadi sekolah gratis inklusif yang pertama di Semarang. Setidaknya ada beberapa anak berkebutuhan khusus yang kami tampung dan alhamdulillah perkembangannya sangat baik," kata Joko.

Kelas parenting di sekolah yang menggunakan pendekatan sekolah alam ini diadakan minimal sebulan sekali. "Temanya menyesuaikan dengan yang lagi tren saat itu. Kami harapkan ada kesesuaian antara sekolah dan di rumah, sehingga anak tidak bingung," kata Joko.

Dalam talkshow tersebut, juga terungkap orangtua cenderung cuek terhadap frekuensi anak nonton TV. Biasanya, hal itu terjadi lebih disebabkan karena mereka tidak tahan mendengar rengekan anak. "Kalau nangis biarkan saja. Itu adalah mekanisme alam untuk netralisasi perasaan. Lama-lama kan tidak nangis," kata Budi.


EditorGlori K. Wadrianto

Close Ads X