Studi di Luar Negeri? Jadilah Pribadi Mandiri!

Kompas.com - 22/07/2011, 10:21 WIB
EditorInggried

KOMPAS.com - Dalam beberapa bulan ke depan, para penerima beasiswa akan berangkat ke negara tujuan, untuk memulai studi di berbagai negara yang biasanya dimulai bulan September-Oktober. Nah, selain persiapan yang bersifat materi, persiapan apa lagi yang harus dilakukan? Sejumlah alumni penerima beasiswa Erasmus Mundus membagikan pengalaman mereka studi di luar negeri dalam sebuah buku berjudul "The Stories Behind". Sebanyak 15 alumni menuliskan kisah dari awal berburu beasiswa, hingga persiapan-persiapan yang harus dilakukan. Yang pasti, pengalaman mereka akan berguna bagi Anda yang akan mengikuti jejak mereka. Apa saja persiapannya?

Dina Mardiana, yang mengikuti program Master Erasmus Mundus Culture Letterarie Europee (CLE) di Perancis dan Italia selama dua tahun, 2008-2010, mengatakan, ada hal-hal sepele yang sering dilupakan, namun sebenarnya penting dipersiapkan sejak dari Tanah Air. Bukan persiapan materi, tetapi mental.

"Persiapkan diri untuk menghadapi culture shock. Karena kita akan menghadapi budaya yang sangat berbeda. Kuncinya, jadilah mandiri. Jangan selalu bergantung kepada orang lain. Di sini, kita bisa meminta tolong kepada senior. Di sana, lebih individualis, sehingga kita dituntut untuk mandiri," kata Dina, kepada Kompas.com, seusai launching buku The Stories Behind, Kamis (21/7/2011), di Jakarta.

Dalam buku ini, Dina Mardiana turut menuliskan pengalamannya studi di dua negara itu. Ia menggambarkan, masa adaptasi merupakan "ujian" yang cukup berat. Pada tengah tahun pertama, ia sempat merasakan masa adaptasi yang sulit di Italia. Terutama, kendala bahasa.

"Walaupun sudah pernah merasakan kelas bahasa pada setahun sebelumnya di Italia, tetapi kursus dan kuliah tidak sama. Kursus adalah sesuatu yang diusahakan untuk dibuat fun oleh guru ke muridnya, sedangkan pada saat kuliah suasananya benar-benar serius," kisah Dina dalam buku tersebut.

Pengalaman lainnya juga diungkapkan Anggiet Ariefianto, penerima beasiswa Network on Humanitarian Assistance (NOHA) Mundus. Ia juga menekankan, perlunya kemandirian saat berada di negeri orang. "Saya sering heran melihat mahasiswa Indonesia yang saat tinggal di luar negeri (terutama di negara-negara Eropa yang tingkat kriminalnya rendah) sangat tidak mandiri, tidak berani bepergian sendiri dan merepotkan orang lain dengan minta ditemani," ungkap Anggiet dalam The Stories Behind.

Bahkan, menurut dia, mahasiswa asal Indonesia yang ditemuinya, seringkali meminta tolong untuk hal-hal yang dinilainya remeh. "Seringkali mahasiswa Indonesia minta tolong bahkan sebelum mulai mencoba sendiri," katanya.

Anggiet juga berbagi, agar para mahasiswa yang baru akan menjalani studi di luar negeri untuk menghilangkan perasaan merasa terdiskriminasi. Menurut dia, pemahaman yang kurang soal budaya lokal seringkali menimbulkan perasaan terdiskriminasi.

"Beberapa ketidaknyamanan seperti kampus tidak libur saat Idul Fitri, tidak ada yang menegur saat pesta dan semacamnya, dianggap sebagai bentuk diskriminasi. Padahal, pada kenyataannya, segala bentuk hari raya agama (kecuali hari raya Kristen yang sebagian besar dianut masyarakat Eropa) memang tidak dirayakan dan tidak dinyatakan sebagai hari libur nasional," paparnya.

Nah, selamat berkelana dan beradaptasi!

Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    Close Ads X