Kesenjangan Guru Hambat Pendidikan untuk Semua

Kompas.com - 14/09/2011, 10:25 WIB
EditorInggried

KUTA, KOMPAS.com — Target pencapaian "Pendidikan untuk Semua" pada tahun 2015 sulit tercapai karena kualitas dan jumlah guru yang tidak merata, terutama di daerah-daerah terpencil. Kesenjangan yang terjadi bukan hanya pada kualitas guru, melainkan juga arah kebijakan dan alokasi anggaran. Tanpa perhatian yang serius terhadap guru, pendidikan dasar yang berkualitas bagi anak tidak akan tercapai.

Direktur untuk Perencanaan dan Pengembangan Sistem Pendidikan UNESCO Paris David Atchoarena mengatakan hal itu dalam Forum Dialog Kebijakan Internasional Ketiga dari International Task Force on Teachers for Education for All (EFA), Selasa (13/9/2011), di Kuta, Bali.

"Tujuannya bukan hanya membawa anak masuk sekolah, melainkan juga memperoleh pendidikan bermutu," kata David.

Pendidikan yang bermutu, kata David, otomatis ditentukan oleh mutu guru. Apalagi, guru menjadi penentu anak untuk mau masuk dan bertahan di sekolah. Karena guru menjadi kunci penting, komunitas internasional memfokuskan perhatian pada kualitas pembelajaran dan materi ajar yang disampaikan guru.

Guru daerah terpencil

Steve Passingham dari Komisi Eropa mengingatkan banyaknya negara yang masih kesulitan untuk menempatkan guru di daerah-daerah terpencil. Beragam cara dilakukan untuk menarik minat guru mengajar di daerah terpencil, seperti menaikkan gaji, menambah insentif, dan meminta guru dari daerah perkotaan untuk sesekali mengajar di daerah terpencil. "Harus ada cara agar guru mau mengajar di daerah-daerah terpencil," ujarnya.

Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal mengatakan bahwa untuk menarik minat guru mengajar di daerah terpencil, pemerintah akan memberikan tunjangan khusus satu kali gaji pokok serta rumah dan beasiswa bagi anak-anak guru yang mengajar di daerah terpencil.

Selain itu, lanjut Fasli, juga telah dilatih 1.000 calon guru sekolah dasar lulusan SMA yang berasal dari kabupaten yang selalu kekurangan guru SD.

Pada tahun 2011, The UNESCO Institute of Statistics (UIS) memperkirakan, dunia masih membutuhkan sekitar 8,2 juta guru dalam kurun 2009 hingga 2015. Idealnya, satu guru maksimal mengajar 40 siswa.

The Global Monitoring Report 2011 menyebutkan, angka siswa putus sekolah di Asia Timur dan Pasifik meningkat lebih dari 3 juta siswa antara tahun 1999 dan 2007. Kondisi ini berbanding terbalik dengan tren dunia yang cenderung menurun. (LUK)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.