Sudah Empat Hari Air PAM di Tamansari Mati Total

Kompas.com - 27/09/2011, 06:06 WIB
EditorHertanto Soebijoto

JAKARTA, KOMPAS.com - Akibat matinya aliran air, warga Jalan Mangga Besar, Kelurahan Tangki, Kecamatan Tamansari, Jakarta Barat, sudah empat hari belakangan ini mengalami kesulitan air bersih. Sejumlah warga mengaku sudah mengadukan persoalan itu kepada instansi terkait, tapi hingga kini air belum juga mengalir ke saluran perpipaan milik warga.

Nadi (45), warga RT 03/05, Kelurahan Tangki mengaku, sudah dua kali melaporkan masalah matinya air ke kantor pelayanan pengaduan Pam Lyonaise Jaya (Palyja) di Penjaringan, Jakarta Utara. Namun oleh petugas yang menerima pengaduan warga hanya diminta untuk sabar menunggu hingga air dapat mengalir kembali.

“Sudah beberapa kali kami mengadu ke Palyja tapi yang didapat hanya jawaban tunggu dan tunggu. Padahal, kami sangat butuh air untuk kebutuhan mandi cuci kakus (MCK),” ungkap Nadi, Senin (26/9/2011).

Ahdiah (55) ,warga RT 06/07, Kelurahan Maphar menuturkan, akibat matinya layanan air PAM sejak empat hari warga terpaksa membeli air bersih dari pedagang air keliling sebesar Rp 20.000-Rp 40.000 setiap hari.

“Sudah empat hari saya menghabiskan uang lebih dari Rp 100.000 hanya untuk membeli air bersih. Ini sangat merugikan kami dan menambah kesulitan warga,” tuturnya.

Camat Tamansari, Imron Syahrin, mengaku belum menerima laporan dari para lurah terkait matinya layanan air PAM. Dia berjanji segera menginstruksikan lurah untuk mengecek ke pemukiman warga tersebut. “Nanti saya cek ke masing-masing lurah dan minta mereka mengecek langsung ke wilayahnya masing-masing mengenai keluhan warga itu,” ujarnya.

Corporate Communication Head of Palyja, Meyritha Maryanie, mengaku pihaknya belum mendapatkan laporan dari warga mengenai terhentinya pasokan air bersih selama empat hari di Kelurahan Tangki, Kecamatan Tamansari.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Saat ini tim jaringan sedang mengecek ke wilayah tersebut, tapi masih belum diketahui penyebabnya apa. Saya minta warga segera lapor ke call center kami, untuk segera kami kirimkan truk-truk tangki air bersih,” kata Meyritha.

Dia menduga, terhentinya pasokan air di Kelurahan Tangki ada hubunganya dengan penurunan debit air di Bendungan Kali Bekasi. Hingga pukul 13.00 hari ini, dia juga mendapat laporan turunnya debit air dari pintu air Pejompongan dari biasanya mencapai 5.600 liter per detik, siang ini hanya 5.096 liter per detik.

“Instalasi Pengolahan Air (IPA) Pejompongan, menerima air gabungan dari Bendungan Kali Bekasi dan Bendungan Jatiluhur. Kami tidak tahu penurunan berasal dari mana, tapi pagi tadi kami menerima informasi kalau ada penurunan air di Bendungan Bekasi sebesar tujuh sentimeter,” ujarnya.

Menurut Meyritha, berkurangnya pasokan air hingga 500 liter per detik, telah diantisipasi dengan penambahan air dari Distribution Center Reservoir (DCR) di Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Di hari biasa, kata dia, DCR Mampang juga mengalirkan air bersih 2.400 liter per detik dari sungai Cisadane, Tangerang. Untuk menutupi kebutuhan pasokan air yang berkurang dari pintu air Pejompongan, pihaknya menambah 500 liter per detik.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.