PENDIDIKAN

RSBI Dinilai Diskriminatif terhadap Siswa Miskin

Kompas.com - 04/10/2011, 09:42 WIB
EditorInggried Dwi Wedhaswary

KULON PROGO, KOMPAS.com - Keberadaan sekolah dengan status rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) kembali dipertanyakan. Dinas Pendidikan DI Yogyakarta diminta meninjau ulang  rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI), karena dinilai diskriminatif terhadap siswa dari keluarga miskin. Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD Kulon Progo Didik Suratman mengatakan, pelaksanaan RSBI di daerahnya sangat diskriminatif.

"Kami sangat menyayangkan pelaksanaan RSBI di Kulon Progo yang sangat diskriminatif terhadap siswa dari keluarga miskin. RSBI menerima siswa yang tingkat kepintarannya rendah tetapi memiliki uang banyak, namun tidak menerima siswa miskin yang sangat pintar karena tidak memiliki uang," ujar Didik, di Wates, Selasa (4/10/2011).

Ia mengungkapkan, orientasi RSBI juga harus ditinjau ulang, sehingga pendidikan di RSBI tidak hanya untuk siswa dari keluarga kaya, tetapi juga dapat dirasakan semua kalangan masyarakat.

"Kami berharap Dinas Pendidikan juga memberikan beasiswa kepada siswa miskin yang masuk di sekolah RSBI. Sekolah RSBI bukan hanya untuk siswa kaya, tetapi untuk semua kalangan masyarakat," katanya.

Hal yang sama dikatakan anggota Komisi IV DPRD Kulon Progo Kasdiono. Ia menilai, pelaksanaan RSBI perlu ditinjau ulang, karena tidak ada jenjang yang berkelanjutan.

"Sejauh ini tidak ada jaminan siswa lulusan sekolah RSBI dapat masuk kembali ke SMA yang juga RSBI. Selain itu, tidak ada jaminan lulusan SMA/SMK RSBI yang diterima di perguruan tinggi yang mereka idamkan. Kami menilai pelaksanaan RSBI perlu ditinjau kembali," katanya.

Kasdiono mengungkapkan, mengatakan dalam kelulusan siswa terdapat tiga hal yang lebih utama, yakni kognitif, afektif, dan psikomotorik dibandingkan dengan kemampuan berbahasa asing dan penguasaan teknologi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Kami menilai, pelaksanaan RSBI hanya mengutamakan kemampuan siswa dalam menguasai bahasa asing, dan menguasai informasi serta teknologi dibandingkan mengedepankan unsur kognitif, afektif, dan psikomotorik," ujar dia.

Menurutnya, biaya sekolah yang harus dikeluarkan siswa yang sekolah di RSBI sangat mahal karena harus membeli laptop, dan buku sekolah yang ganda, yakni buku yang berstandar internasional dan buku yang berstandar nasional, serta peralatan sekolah lainnya yang harganya sangat mahal.

"Jangan sampai ada sebutan ’rintisan sekolah biaya internasional’ dalam masyarakat, karena mahalnya biaya sekolah yang tidak diimbangi adanya jaminan siswa setelah lulus dari RSBI," kata Kasdiono.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.