Peneliti Sangat Sulit Mendapatkan Paten

Kompas.com - 31/10/2011, 08:47 WIB
EditorInggried Dwi Wedhaswary

JAKARTA, KOMPAS.com - Para peneliti Indonesia sangat sulit mendapatkan hak paten meskipun sudah mengurusnya selama bertahun-tahun, bahkan bisa sampai 11 tahun. Padahal, paten merupakan pengakuan atas keberhasilan peneliti melakukan riset.

Bambang Subiyanto, misalnya, mendapatkan hak paten untuk temuan bambu kompositnya selama 11 tahun.

”Sejak mengurus tahun 2000, baru keluar tahun 2011 ini,” kata Bambang, Kepala Pusat Inovasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Peneliti senior pada Balai Besar Teknologi Energi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Herliyani Suharta, juga merasakan sulitnya mengurus hak paten. Ia mengajukan paten kompor tenaga surya pada tahun 1998 dan baru memperoleh patennya tahun 2008.

”Pada tahun 2008 saya kaget ketika diminta kembali agar mengajukan berkas-berkas pengajuan paten yang pernah saya sampaikan tahun 1998. Sepertinya berkas-berkas lama tak dibaca atau hilang, lalu setelah mengurus ulang dalam waktu cepat bisa memperoleh paten kompor tenaga surya,” kata Herliyani.

Direktur Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Ahmad Mujahid Ramli, Sabtu (29/10), mengatakan, lamanya proses paten disebabkan banyaknya pemohon paten yang tidak menyusun hasil penelitian dalam format penulisan spesifikasi permohonan paten.

”Paten yang diajukan swasta rata-rata menggunakan konsultan paten sehingga akurasi dan deskripsi pengajuannya mempercepat proses pengurusan paten,” kata Ahmad.

Ia menyarankan, ke depan, pengajuan paten oleh peneliti menggunakan konsultan. Bisa pula lembaga-lembaga penelitian membentuk unit hak kekayaan intelektual (HKI) yang di dalamnya terdapat konsultan HKI berlisensi.

Bambang Subiyanto mengatakan, rendahnya akurasi dalam pengajuan paten dan tidak digunakannya konsultan paten tidak bisa dijadikan alasan lamanya pengurusan paten. Pusat Inovasi LIPI sudah mengembangkan bagian khusus untuk menangani proses pengajuan paten ini secara profesional.

Selain hak paten, persoalan royalti atau pembayaran atas penggunaan hak paten dari hasil inovasi para periset tidak diatur dengan jelas. Pusat Inovasi LIPI mendesak Kementerian Keuangan untuk segera memberikan ketentuan soal royalti ini.

Berdasarkan data Pusat Penelitian Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Pappiptek) LIPI, terjadi peningkatan paten sejak 2008. Jumlah paten itu meliputi 24 paten (2005), 33 paten (2006), 20 paten (2007), 219 paten (2008), 102 paten (2009), dan 115 paten (2010). Data tidak merinci jumlah paten dari LIPI, tetapi secara keseluruhan yang diajukan warga negara. (NAW)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

OMB UMN 2022: Ciptakan Kampus Tanpa Narkoba, Perundungan, dan Kekerasan Seksual

OMB UMN 2022: Ciptakan Kampus Tanpa Narkoba, Perundungan, dan Kekerasan Seksual

Edu
Materi Ujian AKM Asesmen Nasional 2022 SD, SMP, SMA, SMK

Materi Ujian AKM Asesmen Nasional 2022 SD, SMP, SMA, SMK

Edu
Berkenalan dengan 2K: Kinerja dan Kesejahteraan dalam Bekerja

Berkenalan dengan 2K: Kinerja dan Kesejahteraan dalam Bekerja

Edu
Kompas.com Bersama Tes Bakat Indonesia Kasih Wawasan Karier untuk Ratusan Siswa SMA Ricci 1 dan 2

Kompas.com Bersama Tes Bakat Indonesia Kasih Wawasan Karier untuk Ratusan Siswa SMA Ricci 1 dan 2

Edu
3 Organisasi Ini Danai Siswa Kurang Mampu untuk Kuliah di Pendidikan Tinggi

3 Organisasi Ini Danai Siswa Kurang Mampu untuk Kuliah di Pendidikan Tinggi

Edu
[POPULER EDUKASI] Rektor Undip Larang Keras Perpeloncoan | 1 Keluarga Alumni Unair Raih Gelar Doktor | 4 Kampus Bidang 'Egineering-Technology' Terbaik Indonesia

[POPULER EDUKASI] Rektor Undip Larang Keras Perpeloncoan | 1 Keluarga Alumni Unair Raih Gelar Doktor | 4 Kampus Bidang "Egineering-Technology" Terbaik Indonesia

Edu
Kenaikan Tarif Ojek Online, Ekonom Unair: Pengaruhi Daya Beli dan Inflasi

Kenaikan Tarif Ojek Online, Ekonom Unair: Pengaruhi Daya Beli dan Inflasi

Edu
Penuh Filosofi, Dua Mahasiswa ITB Menang Kompetisi Desain Hunian

Penuh Filosofi, Dua Mahasiswa ITB Menang Kompetisi Desain Hunian

Edu
Raih Akreditasi Unggul, Uhamka Berikan Santunan untuk 1.000 Anak Yatim

Raih Akreditasi Unggul, Uhamka Berikan Santunan untuk 1.000 Anak Yatim

Edu
Tambah 2, Kini Unhas Punya 451 Guru Besar

Tambah 2, Kini Unhas Punya 451 Guru Besar

Edu
Ubah Pedoman Ejaan, Badan Bahasa Luncurkan EYD Edisi V

Ubah Pedoman Ejaan, Badan Bahasa Luncurkan EYD Edisi V

Edu
Kalbis Institute Siapkan Beasiswa Rp 25 Miliar untuk 450 Calon Mahasiswa

Kalbis Institute Siapkan Beasiswa Rp 25 Miliar untuk 450 Calon Mahasiswa

Edu
Bantu Siswa SD Cepat Membaca, Mahasiswa IPB Hadirkan Media Belajar Caksara

Bantu Siswa SD Cepat Membaca, Mahasiswa IPB Hadirkan Media Belajar Caksara

Edukasi
20 Universitas Terbaik di Jawa Timur Versi UniRank 2022, Ada 11 PTS

20 Universitas Terbaik di Jawa Timur Versi UniRank 2022, Ada 11 PTS

Edu
UNS Luncurkan Inclusion Matrics, Wujudkan Kampus Ramah Disabilitas

UNS Luncurkan Inclusion Matrics, Wujudkan Kampus Ramah Disabilitas

Edukasi
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.