PENDIDIKAN

Biaya Mahal, Pamor RSBI Menurun?

Kompas.com - 07/11/2011, 13:07 WIB
|
EditorInggried Dwi Wedhaswary

JAKARTA, KOMPAS.com — Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Khairil Anwar Notodiputro mengatakan, ada indikasi pamor Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) cenderung menurun di mata masyarakat. Menurutnya, hal itu terjadi karena biaya untuk mengenyam pendidikan di sekolah RSBI relatif jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan sekolah lain yang hanya berstandar nasional.

"Pendapat pribadi saya, hal itu mungkin saja terjadi, karena masyarakat sangat rasional. Ketika bayar mahal tidak diimbangi dengan mutu yang didapat maka akan sangat wajar jika RSBI kemudian ditinggalkan," kata Khairil kepada Kompas.com, Senin (7/11/2011), di Kemdikbud, Jakarta.

Namun, hingga saat ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan belum melakukan kajian khusus tentang hal tersebut. Begitu pula hasil evaluasi akhir RSBI. Ia mengatakan, Kemdikbud tidak akan tergesa-gesa membuat keputusan terkait RSBI dan berjanji akan terus melakukan evaluasi secara mendalam dan serius.

"Hasil akhir evaluasi belum bisa saya kemukakan apakah RSBI akan diteruskan atau dihilangkan. Karena ini hal serius, prosesnya agak panjang, dan terkait juga dengan efisiensi pendanaan," ujarnya.

Ia menjelaskan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) secara langsung meminta pihaknya untuk mengkaji efisiensi anggaran RSBI yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Karena APBN merupakan produk hukum, kata dia, maka prosesi penganggarannya harus dilakukan dari awal dan baru selesai beberapa bulan lalu.

Namun, Khairil mengungkapkan, semua pihak, baik pemerintah maupun orangtua siswa, harus ikut menanggung biaya operasional di RSBI. Sebab, menurutnya, pendidikan bermutu selalu harus diimbangi dengan pembiayaan yang mencukupi, walau di sisi lain tetap ada kebijakan khusus untuk siswa kurang mampu yang melanjutkan pendidikan di sekolah-sekolah berstatus RSBI.

"Pendidikan yang bagus tentu memerlukan biaya, tapi siapa yang menanggung? Dalam pikiran saya, semua harus ikut menanggung," kata Khairil.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.