Tradisi Menulis Lebih Rendah daripada Minat Baca

Kompas.com - 23/11/2011, 10:49 WIB
EditorInggried Dwi Wedhaswary

BANDUNG, KOMPAS.com - Kepala Balai Bahasa Bandung  Abdul Khak mengatakan, tradisi menulis di Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan dengan tradisi membaca, terlebih di kalangan generasi muda. Rendahnya tradisi menulis, menurut Abdul, akibat rendahnya minat membaca.

"Minat membaca saja sebenarnya masih rendah. Bayangkan, minat menulis justru berada di bawah minat membaca. Ini tentunya sangat mengkhawatirkan," kata  Abdul Khak, Rabu (23/11/2011), di Bandung, Jawa Barat.

Ia mengatakan, kedua kegiatan, membaca dan menulis saling memengaruhi. "Membaca itu referensi untuk menulis. Bagaimana bisa seseorang menulis jika tidak suka membaca," ujarnya.

Selain itu, faktor lain yang memengaruhi keduanya juga terletak dari proses kegiatannya. Abdul menuturkan, membaca termasuk kegiatan yang pasif dan bisa dilakukan di mana saja. Berbeda dengan menulis yang termasuk kegiatan aktif.

"Kalau menulis itu orang butuh energi yang lebih ketimbang membaca karena kegiatan aktif. Kalau membaca bisa dilakukan di mana saja, bisa di rumah sambil santai atau dalam angkutan umum ketika dalam perjalanan," katanya.

Saat ini, kata Abdul, banyak dosen-dosen di sejumlah perguruan tinggi, baik swasta maupun negeri yang mengeluhkan kualitas tulisan mahasiswa.

"Kualitas dan kemampuan menulis mahasiswa saat ini cenderung rendah. Ini juga membuktikan bahwa, minat membaca mahasiswa sekalipun rendah," ujar Abdul.

Menurut Abdul, mustahil seseorang bisa menulis kalau yang bersangkutan tidak suka membaca karena kedua kegiatan saling beriringan. Sejauh ini, kata dia, pihaknya memang belum mengantongi data pasti terkait rendahnya minat membaca. Namun, kecenderungan tersebut sudah dapat diidentifikasi dari jumlah pengunjung perpustakaan per hari dan frekuensi kunjungan.
 
"Perpustakaan menjadi indikator kecenderungan tersebut, selain toko buku tentunya. Karena tidak ada alasan bagi yang haus membaca, sekalipun tidak ada uang. Dia bisa datang ke perpustakaan misalnya," katanya.

Oleh karena itu, Balai Bahasa Pusat dan sejumlah cabangnya di sejumlah daerah di Indonesia kian menggencarkan kegiatan yang dapat mendorong munculnya minat kedua kegiatan itu.

"Saat ini Balai Bahasa Pusat terus menyelenggarakan kegiatan-kegiatan, terutama untuk target usia pelajar dan mahasiswa. Tujuannya tetap sama, yaitu menanamkan minat membaca," ujarnya.

Kegiatan tersebut mengarah pada kolaborasi kegiatan membaca dan menulis, seperti menceritakan kembali isi buku  melalui tulisan, dan menanggapi pemberitaan di surat kabar dengan menuliskannya ke dalam bentuk surat.

"Dari suatu kegiatan harus mencakup kedua aspek tersebut karena keduanya memang saling beriringan," kata Abdul.

Selain itu, masyarakat Indonesia, menurut Abdul, harus banyak belajar dari bangsa-bangsa lain yang minat membacanya sudah tinggi.

"Karena membaca itu konteksnya luas. Tidak hanya membaca buku, tetapi juga membaca kondisi dan keadaan lingkungan sekitarnya," katanya.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X