Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Antara Langit dan Bumi

Kompas.com - 24/11/2011, 09:36 WIB
EditorInggried Dwi Wedhaswary
Oleh Terry Mart*

KOMPAS.com - Jika dalam hal sepak bola kita kalah tipis melawan Malaysia, dalam hal penelitian kita kalah telak!

Bahkan, perbandingan prestasi—yang diwakili oleh jumlah publikasi ilmiah di jurnal internasional—sudah hampir seperti antara langit dan Bumi.

Saya sering dikritik jika menyajikan data yang saya ambil dari basis data Scopus ini. Pertama, banyak yang mempermasalahkan seberapa pentingkah makalah ilmiah dibandingkan teknologi tepat guna di pedesaan atau penelitian untuk mengentaskan orang dari kemiskinan yang langsung menuju sasaran serta dibutuhkan rakyat? Kedua, data Scopus tak memiliki filosofi sekuat data faktor dampak (impact factor/IF) yang dikeluarkan ISI Thomson karena IF langsung merefleksikan pentingnya sebuah jurnal akibat sering dikutip.

Untuk kritik pertama, saya hanya bisa menyatakan keyakinan saya bahwa pola antara langit dan Bumi ini mewakili hampir semua sektor penelitian: sains atau teknologi, murni atau terapan, ilmiah atau tidak ilmiah, dan sebagainya. Kebetulan hanya jumlah makalah yang mudah dikuantisasi dan dibandingkan antarnegara. Jadi, percuma saja mengalihkan topik diskusi ke pentingnya penelitian bidang tertentu jika persoalan dasar penelitian tidak dibenahi.

Scopus mungkin kurang informatif dibandingkan IF. Bahkan saya melihat jurnal-jurnal Indonesia dan Malaysia dalam Scopus memiliki IF nol, bahkan sama sekali tidak terdaftar di ISI sehingga jarang dibaca ilmuwan mancanegara. Namun, berlangganan Scopus jauh lebih murah.

Memakai IF untuk menilai kinerja ilmuwan kita juga dapat dianggap sebagai ”pembantaian”, apalagi buat mereka yang akan naik pangkat, karena jumlah jurnal internasional yang terdaftar pada ISI sangat terbatas.

Minimnya publikasi di jurnal internasional umumnya akibat mutu makalah yang rendah. Lebih dari satu dekade lalu William H Glaze, editor jurnal Environmental Science and Technology, menyatakan bahwa penelitian ilmu lingkungan di negara berkembang jauh tertinggal dibandingkan dengan di negara maju. Bukan cuma kuno metodenya, kadang-kadang penelitian tidak dilakukan dengan baik, pendokumentasian berkualitas rendah, dan metode eksperimen yang tidak memenuhi standar. Kualitas penelitian yang rendah sudah pasti menghasilkan produk penelitian yang juga rendah.

Kasus Indonesia

Untuk kasus Indonesia, kemungkinan besar yang dikatakan Glaze benar. Namun, bagaimana dengan Malaysia yang juga negara berkembang?

Tampaknya ada paradigma yang salah di republik ini yang menyebabkan kualitas penelitian selalu rendah. Ironisnya, paradigma ini tidak muncul atau paling tidak sudah diatasi di Malaysia. Dari perbandingan jumlah publikasi terlihat bahwa paradigma tersebut sudah eksis di republik ini sejak dua dekade lalu dan dibiarkan berlarut sehingga memunculkan fenomena antara langit dan bumi.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman Selanjutnya
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+