Studi ke Inggris? Perhatikan Ini...

Kompas.com - 09/12/2011, 19:01 WIB
|
EditorInggried Dwi Wedhaswary

JAKARTA, KOMPAS.com — Setiap negara memiliki kebijakan tentang pendidikan yang umumnya sangat berbeda. Tak terkecuali Inggris, sebuah negara yang kaya akan budaya, yang menjadikannya salah satu negara terfavorit tujuan pelajar internasional untuk melanjutkan studi, termasuk para pelajar dari Indonesia.

Lalu, bagaimanakah cara untuk melanjutkan studi di Inggris?

Sama seperti negara-negara lain, hal utama yang harus diperhatikan ketika ingin melanjutkan studi di luar negeri adalah menguasai bahasa negara yang dituju dan yakin dengan program studi yang akan kita pilih. Namun, melanjutkan studi di Inggris menjadi sedikit lebih rumit untuk para pelajar setingkat SMA, khususnya pelajar yang sekolahnya tidak membuka kelas internasional.

"Akses untuk masuk ke program studi di Inggris dari S-1 ke S-2 itu tidak masalah karena bisa langsung ke universitas. Tapi, untuk pelajar SMA yang ingin ke S-1 itu ada beberapa pertimbangan," ungkap UK Education Manager, British Council, Andrias Soesilo, dalam sebuah seminar bertajuk "UK Higher Education" yang digelar  Kedutaan Besar Inggris untuk Indonesia bersama British Council pada "The Best of UK Festival", di Epicentrum Walk, Rasuna Said, Jakarta, Jumat (9/12/2011).

Ia menjelaskan untuk pelajar lulusan setingkat SMA yang di sekolahnya tidak terdapat kelas internasional harus mengambil program foundation selama  9-12 bulan. Dalam program tersebut akan diajarkan beberapa komponen, seperti menulis laporan, dan kemahiran berbahasa Inggris.

"Tentu saja itu harus, karena nantinya para pelajar akan sering melakukan presentasi," ujarnya.

Sementara, untuk pelajar lain yang telah mengikuti kelas internasional di sekolahnya juga harus mengikuti program IB Diploma atau GCE A-Level selama sekitar dua tahun. Dengan program tersebut, para pelajar dimungkinkan untuk memilih lima institusi yang menjadi pilihannya.

"A-Level itu disesuaikan dengan program studi yang akan diambil. Memang menyita waktu, tetapi bisa mengatasi kebingungan karena pelajar dapat memilih lima institusi berbeda. Untuk mengatasi kegagalan, sebaiknya jangan memilih institusi favorit semua," ujarnya.

Sama halnya dengan program studi, tiap-tiap institusi juga memiliki standar yang berbeda. Akan tetapi, secara umum, terang Andrias, program studi bisnis, hukum, dan kedokteran memiliki kompetisi yang lebih ketat. Itu terjadi, menurut dia, karena ketersediaan kelas pada program studi tersebut sangat terbatas.

Program studi bisnis si setiap kelasnya sekitar 30 sampai 40 pelajar, program studi hukum sekitar 15 sampai 20, bahkan untuk universitas favorit, program studi hukum hanya menampung 10 pelajar di setiap kelasnya. Adapun untuk program studi kedokteran jumlahnya lebih sedikit, umumnya hanya 5 pelajar di setiap kelasnya.

"Itu pun nilai A-Levelnya harus A atau B semua, tergantung institusinya. Dan kemahiran bahasa Inggris tentunya menjadi mutlak," ungkap Andrias.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.