Peneliti Perempuan Indonesia Raih Penghargaan Internasional

Kompas.com - 04/04/2012, 14:11 WIB
|
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com -  L'Oreal dan UNESCO kembali memberikan penghargaan kepada 15 perempuan peneliti dari seluruh dunia. Mewakili Asia Pasifik, Indonesia berhasil meraih pengakuan prestisius melalui sosok Sidrotun Naim, peneliti muda yang meneliti mengenai virus yang melumpuhkan udang.

Menyelesaikan studi doktoralnya di Universitas Arizona, Sidrotun meneliti mengenai Infectious Myonecrosis Virus, virus yang mampu melumpuhkan 70 persen populasi udang di Indonesia. Riset ini dinilai memberikan kontribusi besar bagi dunia sains dan berpotensi meningkatkan perekenomian Indonesia.

Program L’Oréal-UNESCO For Women In Science menampilkan karya-karya sains perempuan yang memberikan kontribusi nyata dalam menemukan solusi efektif dan terjangkau bagi masa depan perekonomian negaranya dan dunia.  Dari udang dan tiram, hingga teripang dan tanaman obat, para Fellows For Women In Science Internasional 2012 berjuang untuk mencapai keseimbangan sosio-ekonomis dan sumber daya alam.

“Prestasi ini membuktikan bahwa negara ini memiliki kualitas pendidikan yang setara dengan para peneliti kelas dunia. Kami berharap, ini dapat menginspirasi dan memotivasi perempuan Indonesia lainnya untuk menekuni karier di bidang sains, sehingga mereka bisa mengalami sendiri bahwa melalui sains, perempuan bisa membuat perbedaan bagi dunia yang lebih baik," kata Prof.Arief Rahman, Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO.

Arief menilai, secara kultural masih banyak hambatan yang membuat perempuan kurang terdengar kiprahnya dalam dunia riset. "Masih ada budaya atau suku yang tidak memberikan kesempatan bagi perempuan untuk lebih maju," papar Arief ketika ditemui saat acara media gathering bersama pemenang Anugerah L'Oreal Unesco FWIS Internasional, Selasa (3/4/12) di Jakarta.

Hambatan lain adanya adalah profesi peneliti kurang dilirik oleh generasi muda.  "Peneliti tidak mendapat tempat yang seksi di mata lulusan SMA. Mereka lebih tertarik pada keuangan daripada pembangunan pendidikan," jelasnya.  Padahal, tegasnya, di dalam pembangunan, suatu bangsa tidak boleh tidak didasarkan pada data dan penelitian.

Poin selanjutnya adalah persoalan klasik, masalah kesejahteraan. Ia mengatakan, profesi peneliti di negara seperti, Jepang dan Malaysia pendapatannya sangat besar. Selain itu fasilitas riset pun lebih memadai sehingga membuat para peneliti Indonesia memilih bekerja di luar negeri.

 



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X