Soal Tor-tor, Plt Gubernur Sumut Tersentil

Kompas.com - 19/06/2012, 16:48 WIB
|
EditorJodhi Yudono

MEDAN, KOMPAS.com--Gatot Pujo Nugroho, Pelaksana Tugas Gubernur Sumatera Utara merasa tersentil menyikapi rencana pemerintah Malaysia menjadikan Tor-tor dan Gordang Sambilan sebagai warisan budaya nasionalnya.

Kejadian ini harus memotivasi pemerintah Indonesia agar tidak lagi lalai mendata kearifan dan budaya lokal. "Ini sentilan bagi kami, pemerintah Sumut khususnya, dan pemerintah pusat umumnya," kata Gatot kepada wartawan, Selasa (19/6/2012).

Gatot menyatakan, kebijakan Malaysia tersebut seharusnya menjadi catatan pemerintah terkait dokumentasi dan pengarsipan terhadap budaya-budaya lokal yang sangat beragam di Indonesia. Dalam konteks ini, Pemprov Sumut sudah merespons permintaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk melakukan pendataan.

Hari ini Gatot menyurati bupati dan wali kota di Sumut untuk melakukan dokumentasi kearifan dan budaya lokal di daerah masing-masing. "Kita akumulasi menjadi sebuah kearifan dan budaya Sumut untuk kita laporkan dan kita daftarkan di hak kekayaan intelektual," paparnya.

Gatot juga menggarisbawahi, pemerintah harus terpacu melakukan registrasi kearifan dan budaya lokal karena era Komunitas Asean akan dimulai pada 2015. Saat itu, perpindahan budaya dan sumber daya manusia akan sangat cepat, sehingga akan ada infiltrasi.

"Jika kita tidak punya dokumentasi dan pengarsipan budaya maka kita akan terkubur karena kita tidak akan punya jati diri budaya," katanya.

Soal upaya Malaysia menjadikan Tor-tor dan Gordang Sambilan sebagai warisan budaya, Gatot melihat kejadian ini dari sebab musababnya. "Kita harus telusuri sejauh mana asbabun nuzul itu terjadi. Sepengetahuan saya bahwa itu justru apresiasi pemerintah Malaysia terhadap keberadaan warga atau imigran, atau masyarakat Tapanuli Selatan tepatnya," ungkap dia.

Dia memaparkan, masyarakat Mandailing cukup banyak di Malaysia. Bahkan istri temannya di negeri jiran itu ternyata adalah boru Nasution. "Masyarakat perantau dari Tapanuli Selatan sudah cukup eksis, cukup lama dan punya peran cukup besar di Malaysia. Bahkan setahu saya pakar ekonomi Islam di sana bermarga Rangkuti," imbuhnya.

Gatot menganggap kejadian ini muncul ketika masyarakat Mandailing mencoba membuat ikon untuk mengobati kerinduan kepada kampung halaman dan leluhurnya. "Jadi pemahaman kita seperti itu. Karena itu, kami mengajak masyarakat, terutama generasi muda, untuk memandang masalah ini lebih bijak, jangan terprovokasi, harapannya dikemudian hari hal seperti ini tidak terulang," tutupnya.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X