Solusi pada Orangtua dan Pendidikan

Kompas.com - 27/06/2012, 04:08 WIB
Editor

Jakarta, Kompas - Pekerja anak tak akan dapat dihapus selama orangtua membiarkan atau justru mendorong anak bekerja dengan alasan kesulitan ekonomi. Pemerintah dan masyarakat harus memutus mata rantai kemiskinan.

”Kami pernah mengembalikan pekerja anak jermal ke orangtuanya. Orangtuanya malah marah karena anak itu pencari nafkah utama keluarga,” kata Ketua Dewan Pembina Komnas Perlindungan Anak Seto Mulyadi, Selasa (26/6), di Jakarta.

Orangtua, menurut Ketua Yayasan Kampung Halaman Dian Herdiany, merupakan pintu pertama yang dapat menghentikan anak bekerja. ”Anak-anak hanya ingin didengarkan suaranya oleh orang dewasa, terutama orangtuanya,” kata Dian seusai pemutaran enam video diary 41 pekerja anak dari berbagai profesi di Jakarta, Sukabumi, dan Makassar.

Staf Nasional untuk Perlindungan Anak dan Pendidikan Organisasi Buruh Internasional (ILO) Dede Shinta mengatakan, isu pekerja anak terkait masalah ekonomi, pendidikan, dan keluarga. Untuk itu, penanganannya harus bersama-sama. Butuh langkah konkret dari masyarakat.

”Pekerja anak dengan pekerjaan terburuk dan berbahaya selama ini sulit dijangkau dan tak mudah dipindahkan atau dikeluarkan dari pekerjaannya. Kami harap pendidikan menjadi pisau pemotong masalah pekerja anak,” kata Dede.

Beri ruang

Menurut Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Maria Ulfah Anshor, kini saatnya memberi ruang anak untuk menyuarakan persoalan mereka dari kacamata anak. Selama ini, kebijakan/program anak tak dibuat berdasarkan kebutuhan atau kepentingan anak, tetapi orang dewasa. ”Anak berhak menyampaikan pendapat. Saatnya mendengar anak-anak bicara,” kata Ulfah.

Sebagai langkah antisipatif mencegah anak bekerja, lanjut Seto Mulyadi, masyarakat di lingkup RT dan RW harus ikut melindungi anak. Caranya, berbicara dan membuka wawasan orangtua agar tak mengorbankan anak.

Persoalan pekerja anak, lanjut Ulfah, kompleks. Solusinya tak bisa parsial. Karena akar persoalannya kemiskinan, faktor itulah yang harus diselesaikan. ”Orangtua harus dimotivasi menyekolahkan anaknya,” ujarnya.(LUK)



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X