Menjaga Tradisi Kampus Melalui "Studium Generale"

Kompas.com - 30/06/2012, 13:35 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Studium generale adalah tradisi khas kehidupan kampus-kampus besar di Eropa dan Amerika yang tradisi ilmiahnya sudah mapan. Di Indonesia, studium generale atau sering diterjemahkan sebagai kuliah umum, semakin penting dilaksanakan di perguruan-perguruan tinggi sebagai penambah wawasan baru yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan zaman.

Demikian diungkapkan Wakil Rektor Universitas Nasional (Unas) bidang Hubungan Kerjasama dan Kemahasiswaan, Drs Faldy Rasyidie, di Jakarta, Sabtu (30/6/2012). Dia mengungkapkan, isi dan peta jalan (road map) perguruan tinggi ke depan harus berpijak pada pokok-pokok yang telah digariskan di masa lalu dan rancangan ke depan yang terus dikembangkan sesuai kebutuhan dan perkembangan zaman. Salah satunya menjadikan studium generale sebagai tradisi kampus.

"Salah satu tradisi akademik universitas yang senantiasa dijaga sampai saat ini adalah adanya kuliah umum dengan mendatangkan pemikir-pemikir yang dapat membantu kita semua untuk membuka cakrawala dan memperkaya penalaran seluruh civitas akademika sebagai peserta kuliah umum ini," papar Faldy menanggapi alasan mendatangkan Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Metro Jaya, Irjen Polisi Untung S. Radjab, sebagai pembicara kuliah umum bertema "Demokrasi: Pemilahan Fungsi-fungsi Aktor" pada Kamis (28/6/2012) lalu.

Faldy mengatakan, pihaknya menjadikan kuliah umum sebagai salah satu tradisi akademik yang senantiasa dijaga sampai saat ini. Alhasil, mendatangkan pemikir-pemikir dan narasumber berkualitas dan berintelektual tinggi tidak cukup hanya dari kalangan akademis. 

"Wawasan baru di kuliah umum itu diperlukan untuk meningkatkan mutu internal yang turut memperkuat pengendalian mutu eksternal yang sudah dilaksanakan melalui proses akreditasi dan penghargaan oleh semua pemangku kepentingan," ujar Faldy.

Adapun pada kesempatan ini pun, Kapolda Irjen Untung didampingi oleh Wakapolda Metro Jaya, Brigjen Pol Suhardi Alius, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Rikwanto dan Kapolsek Pasar Minggu, Kompol Adri sebagai pendamping langsung Kapolda. Sebelum memberikan materi, Irjen Untung mengungkapkan apresiasinya kepada para mahasiswa yang nantinya akan menjadi produk pendidikan unggul dan generasi penerus pembangunan bangsa.

"Produk dari pendidikan adalah jasa, yaitu sumber daya manusia yang tidak hanya memiliki intelektual tinggi, tapi juga moral dan budi pekerti yang baik," ujarnya.

Terkait dengan tema yang diusung, Untung menjelaskan, bahwa konsep dasar demokrasi Indonesia adalah demokrasi dari, untuk dan oleh rakyat. Peraih gelar doktor di Universitas Padjajaran ini juga mengungkapkan beberapa kriteria negara demokrasi adalah hukum di atas segalanya, dan adanya peradilan yang tidak memihak.

"Semua elemen yang terkandung pada demokrasi Indonesia dapat diibaratkan sebagai aktor-aktor dalam pembangunan negara ini, dan sudah seharusnya aktor tersebut melakukan dan menampakkan fungsinya sesuai dengan bidang keahliannnya," katanya.

Senada dengan Untung, Wakil Direktur Pusat Kajian Asia Tenggara Unas, Prof Hermawan Sulistyo mengungkapkan, sejatinya setiap orang yang menjabat dalam struktur pemerintahan harus sesuai bidang keahliannya. Jika tidak, lanjut Hermawan. minimal memiliki minat dan motivasi di bidang tersebut.


PenulisM Latief
EditorLatief

Close Ads X