Kompas.com - 05/07/2012, 08:45 WIB
|
EditorInggried Dwi Wedhaswary

JAKARTA, KOMPAS.com – Didorong perasaan tertantang menjalani rutinitas di lingkungan baru sekaligus tertarik dengan kebudayaan Jepang, Rahmat Mulyadi akhirnya mengubah haluan alias "banting stir" dan memilih negeri sakura sebagai negara pilihannya untuk melanjutkan studi di Ritsumeikan Asia Pacific University (APU).

Cerita bermula pada tahun 2003, tepat satu tahun setelah ia lulus dari sekolah setingkat SMA di Selandia Baru. Saat itu, Rahmat telah diterima di salah satu perguruan tinggi di negara tersebut.

Di sela-sela masa peralihan dari SMA ke bangku kuliah itulah ia mendapatkan informasi mengenai kesempatan untuk melanjutkan studi (kuliah) di Jepang melalui salah satu program beasiswa yang diberikan oleh APU. Perburuan pun dimulai, serangkaian proses ia penuhi satu persatu. Baik secara administrasi sampai kepada tes akademik.

Tak selang berapa lama, gayung bersambut, kabar baik pun datang. Ia dinyatakan lulus seleksi beasiswa dan berhak melanjutkan studinya di program studi International Marketing jurusan Asia Pacific Management, APU.

“Pada saat itu saya berpikir lebih baik mengalami sesuatu yang baru walaupun Jepang adalah negara yang lebih “asing” buat saya,” kata Rahmat, Senin (3/7/2012).

Waktu pun berlalu dan ia berhasil menyelesaikan studinya pada 2007. Tak lama setelah lulus, ia diterima bekerja di sebuah perusahaan raksasa yang bergerak di bidang otomotif, Toyota Tsusho di Singapura. Sekitar empat tahun ia menjalani perannya di perusahaan tersebut dengan baik. Atas prestasinya, dalam satu tahun ini ia ditugaskan ke Kamboja sebagai Executive & Advisor for Toyota Kamboja.

“Saya bersyukur dengan kesempatan yang saya terima sekarang ini. Saya kira selain dari pencapaian akademik, faktor yang penting dalam mencapai sukses adalah budaya kerja kita. Rasa keseriusan dan tanggung jawab dalam bekerja banyak saya pelajari dari pengalaman sewaktu kuliah di Jepang,” ungkapnya.

Laiknya sebuah perjuangan, kesuksesan Rahmat tentu tidak diperoleh dengan mudah. Banyak hal dalam dirinya yang ia pacu dengan keras. Selain akademik, tentunya adalah kemampuan menguasai bahasa Jepang.

Sudah bukan rahasia lagi, bahasa dan huruf Jepang merupakan salah satu hal yang sulit dikuasai. Demikian pula yang dialami Rahmat. Keterbatasannya berinteraksi menggunakan bahasa Jepang selalu menghantui  saat memulai kehidupan barunya di Negeri Sakura tersebut.

Beruntung ia kuliah di APU. Di sini, para mahasiswa yang belum menguasai bahasa Jepang diberi keluasaan untuk memilih kelas dengan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya.

“Faktor bahasa memang menjadi kendala, tapi semua pasti bisa diatasi. Menetap di  Jepang merupakan sebuah pengalaman yang berharga. Bukan hanya dalam segi pendidikan, tapi juga dalam aspek budaya kerja, dan itulah ilmu yang banyak membantu saya di dunia kerja,” ujar Rahmat.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.