Studi di Negeri Sakura, Menaklukkan Kendala Bahasa

Kompas.com - 06/07/2012, 09:08 WIB
|
EditorInggried Dwi Wedhaswary

JAKARTA, KOMPAS.com - Studi di Jepang memang memiliki kebanggaan tersendiri. Dengan menuntut ilmu di negeri orang, kita akan banyak  belajar cara untuk bertahan dan bergaul di tempat yang memiliki budaya berbeda.

"Bergaul dengan bangsa lain di Jepang, dengan kuliah di APU, aku lebih bisa mengetahui karakter orang-orang dari suatu negara," kata Vanessa Arninda Sihite, mahasiswi Asia Pasific Univercity (APU), saat dihubungi Kompas.com, di Jakarta, Selasa (3/7/2012).

Vanessa mengatakan, budaya memengaruhi karakteristik seseorang.  Ia mencontohkan, mahasiswa asal Vietnam terkenal sangat giat belajarnya. Menurut Vanessa, ketika bekerja dengan mahasiswa Vietnam, mereka sangat cekatan untuk mengerjakan suatu pekerjaan.

Nah, lain lagi dengan mahasiswa Cina. Menurut Vanessa, mahasiswa asal Cina terkenal dengan ekonomi yang berkecukupan. Jika mahasiswa Indonesia melakukan perjalanan dengan menggunakan fasilitas transportasi umum, mereka menyewa kendaraan pribadi.

Kendala bahasa

Meski menambah banyak pengalaman, perjalanan studi di Negeri Sakura bukan tanpa kendala. Vanessa mengungkapkan, bahasa menjadi salah satunya. Menurutnya, mahasiswa Indonesia lebih baik dalam penguasaan bahasa Inggris jika dibandingkan dengan mahasiswa Jepang. Awalnya, ia mengalami kesulitan berkomunikasi dengan mahasiswa Jepang. Apalagi, saat itu ia hanya mempelajari bahasa Jepang sangat dasar sehingga bahasa Inggris menjadi andalan.

"Waktu mengirim email tentang project (dengan mahasiswa Jepang), teman aku nyuruh aku menerjemahkan bahasa Inggris. Tapi dia bukannya tulis translate, malah tulis transport," ujarnya mengenang.

Bagi Vanes, sapaan akrabnya, hal inilah yang menjadi kendala untuk mahasiswa internasional di APU (English-based Students). Walau pun APU English based students menggunakan bahasa pengantar dengan bahasa Inggris, tidak semua pelajar datang dari negara berbahasa Inggris. Sehingga dibutuhkan waktu untuk berkomunikasi lancar. Sebab, aksen pengucapan yang berbeda terkadang menyulitkan untuk memahami apa yang diucapkan.

"Misalnya, di Vietnam orang-orang belajar British English, tapi karena mereka mengucapkan dalam aksen mereka, dan bukan aksen British yang seharusnya, jadi agak sulit mengerti mereka ngomong apa. Begitu juga dengan mereka, mungkin enggak ngerti kita ngomong apa walau pun kita ngomong pake bahasa Inggris," tambah Vanes.

Menurut Vanes, solusi untuk masalah bahasa ini adalah bertanya sejelas mungkin kepada lawan bicara kita. Untuk menghindari kesalahpahaman.

 

Baca tentang


    Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    Close Ads X