Kompas.com - 01/08/2012, 11:25 WIB
|
EditorCaroline Damanik

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Illa Sailah, mengimbau semua pihak untuk tidak risau dan merasa terancam dengan kemungkinan masuknya perguruan tinggi asing ke Indonesia.

Kerisauan berpotensi muncul pasca-disahkannya Undang-Undang Pendidikan Tinggi (UU Dikti) pertengahan Juli lalu. UU Dikti ini menjadi payung hukum yang melegalkan perguruan tinggi asing menyelenggarakan pendidikan tinggi di Indonesia.

"Tidak perlu risau, semua sudah diatur oleh Undang-Undang," kata Illah kepada Kompas.com, Selasa (31/7/2012) malam, di Jakarta.

Illa pun menyampaikan, ekspansi perguruan tinggi asing ke Indonesia dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi tanpa perlu menggerus budaya dan nasionalisme mahasiswa Indonesia di dalamnya.

"Coba kita berpikir berapa banyak pelajar kita yang melanjutkan studi ke luar negeri setiap tahunnya? Kebijakan ini juga untuk mewadahi mereka," ujarnya.

Berbagai syarat

Sebelumnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Mohammad Nuh mengatakan, perguruan tinggi asing diizinkan menyelenggarakan pendidikan di Indonesia dengan catatan bersedia memenuhi aturan main yang tercantum dalam UU Dikti. UU tersebut menekankan pada status akreditasi perguruan tinggi yang akan masuk ke Indonesia. Hanya perguruan tinggi asing dengan mutu baik yang diizinkan.

Selanjutnya, UU Dikti juga mewajibkan setiap perguruan tinggi asing yang masuk ke Indonesia untuk berbasis nirlaba dan melakukan kerjasama dengan perguruan tinggi Indonesia.

Dalam waktu dekat, Mendikbud juga akan mengeluarkan Permendikbud yang mengatur lokasi perguruan tinggi asing beroperasi dan program studi yang dapat diselenggarakan. Perguruan tinggi asing tidak bisa seenaknya membuka kelas karena ada wilayah dan jurusan tertentu. Misalnya, program studi yang belum bisa tersedia di Indonesia atau program studi yang memerlukan investasi besar.

Mengenai bahasa pengantar, UU Dikti secara tegas mengatur bahasa Indonesia sebagai bahasa utama dalam pendidikan tinggi. Selanjutnya, bahasa daerah dan bahasa asing hanya dapat digunakan untuk mendukung mata kuliah tertentu.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    27th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Verifikasi akun KG Media ID
    Verifikasi akun KG Media ID

    Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

    Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.