Perekam Pesanan Makanan Ramah Lingkungan Karya Siswa SMA - Kompas.com

Perekam Pesanan Makanan Ramah Lingkungan Karya Siswa SMA

Kompas.com - 14/08/2012, 08:33 WIB

SEMARANG, KOMPAS.com – Pernahkah terpikir di benak Anda, berapa banyak kertas yang digunakan restoran-restoran untuk menulis pesanan makanan? Dan, apakah memesan makanan di restoran harus selalu menggunakan kertas?

Banyaknya penggunaan kertas di restoran-restoran  dinilai tidak ramah lingkungan. Hal inilah yang  membuat dua siswi Semesta Boarding School Semarang, Dini Esfandiari dan Shofi Delaila Herdi menciptakan sebuah alat yang lebih praktis dan ramah lingkungan. Alat tersebut diberi nama Mini Multi Commander (MMC). Sebuah alat kecil berbentuk tabung untuk menyimpan pesan suara dan playback suara sebagai pengganti kertas.

Karya tersebut berhasil menyabet medali emas pada ajang National Young Inventor Award (NYIA) yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tahun 2011 lalu. Selain itu,  karya ini juga berhasil mengukir prestasi di ajang International Exhibition for Young Inventors (IEYI) di Bangkok, Thailand akhir Juni lalu dengan mendapatkan Special Award dari tim juri pada kategori Recreational and Educational Invention.

Dini mengatakan, melalui alat yang mereka ciptakan, restoran tidak perlu menyediakan kertas untuk menuliskan pesan makanan. Tentunya akan menghemat pengeluaran untuk pembelian kertas dan ramah lingkungan. Sebab, kertas yang sudah digunakan biasanya tidak bisa terpakai.

“Kalau kertas untuk nota masih tetap, tapi untuk pemesanan tidak perlu menggunakan kertas jika menggunakan MMC ini,” katanya.

Alat ini, ungkapnya, dirakit dari bahan-bahan yang sederhana dan tidak terlalu sulit dalam mencarinya. Misalnya, lampu LED kecil, display screen kecil, micro controller, ISD 25120 untuk perekam, baterai berbentuk kotak rechargable berkekuatan 9 volt, serta tempat bekas makanan ringan yang berbentuk bulat tabung yang digunakan sebagai bentuk luarnya.

“Sistem kerjanya, pengunjung bisa merekam suara jenis makanan apa saja yang akan dipesan dengan membuka tutup bagian atas, dan nanti alat akan diambil oleh pelayan untuk mengetahui pengunjung itu memesan apa. Caranya, dengan membuka tutup bagian bawah untuk mendengar. Jika ada pesan yang terekam, lampu LED akan menyala,” ujar pecinta olah raga tenis dan basket ini.

Sistem kerjanya seperti alat perekam (recorder) pada umumnya. Namun lebih minim tombol agar tidak membingungkan pemakai. Durasi rekaman bisa mencapai dua menit, dan sudah dicoba cukup untuk memesan sejumlah makanan di restoran atau café.

Tugas sekolah

Dini mengisahkan, awal terciptanya alat ini bermula dari tugas sekolah. Bersama Shofi, mereka melakukan survei terhadap penggunaan kertas untuk pemesanan makanan di sejumlah restoran dan café yang cukup besar di Semarang. Hasilnya, setiap restoran minimal menghabiskan uang sebesar Rp 800 ribu hingga Rp 900 ribu untuk pembelian kertas. Adapun, untuk membuat prototipe alat ini hanya menghabiskan uang sekitar Rp300 ribu dan bisa digunakan dalam jangka waktu lama.  

“Setelah itu kertas hanya dibuang saja, padahal pengeluarannya besar. Dari situ kami berpikir untuk membuat alat yang lebih hemat dan tahan lama. Jadilah MMC ini. Kalau diproduksi banyak tentu akan lebih murah,” ujar gadis kelahiran Tegal, 11 November 1994.

Bukan hanya untuk merekam pesanan di restoran, alat ini juga multifungsi dan bisa dijadikan sebagai alarm pengingat atau pesan apa pun yang akan disampaikan. Sebab, pada alat tersebut juga terdapat komponen real time clock. Fungsinya bisa seperti alarm, namun menimbulkan suara.

“Misalnya untuk alarm bisa diisi dengan suara 'Bangun, bangun'. Atau, kalau orang tua akan meninggalkan pesan kepada anaknya ketika pergi seperti 'Jangan lupa makan atau jangan lupa mengerjakan PR', juga bisa. Jadi memang multifungsi,” jelasnya.

Saat ini, Dini dan Shofi, sudah lulus dari jenjang SMA. Shofi diterima di Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM. Sementara, Dini  masih mencari universitas yang tepat dan memimpikan bisa kuliah di Fakultas Kedokteran UI untuk mewujudkan cita-citanya sebagai dokter, meski harus menunda kuliahnya tahun depan.

Sukses, ya!

 


EditorInggried Dwi Wedhaswary
Komentar

Terkini Lainnya

Dishub Tambah Durasi Lampu Hijau demi Urai Kemacetan di Pasar Tasik

Dishub Tambah Durasi Lampu Hijau demi Urai Kemacetan di Pasar Tasik

Megapolitan
Hakim Tunda Vonis 8 WN Taiwan Penyelundup 1 Ton Sabu-sabu

Hakim Tunda Vonis 8 WN Taiwan Penyelundup 1 Ton Sabu-sabu

Megapolitan
Bersama Dua Teman, Pria Ini Bergantian Perkosa Putri Kandungnya

Bersama Dua Teman, Pria Ini Bergantian Perkosa Putri Kandungnya

Internasional
Akademi Antikorupsi, Kuliah Singkat Lawan Korupsi dengan Metode 'E-Learning'

Akademi Antikorupsi, Kuliah Singkat Lawan Korupsi dengan Metode "E-Learning"

Nasional
Perpanjangan Waktu Ganjil-Genap Sudirman-Thamrin Mulai Diuji Coba Senin

Perpanjangan Waktu Ganjil-Genap Sudirman-Thamrin Mulai Diuji Coba Senin

Megapolitan
Mobil Tabrak Pipa Saluran Gas Bikin Rumah Berusia 60 Tahun Meledak

Mobil Tabrak Pipa Saluran Gas Bikin Rumah Berusia 60 Tahun Meledak

Internasional
Cak Imin Merasa Dipuji Jokowi soal Baliho Wajahnya Lebih Banyak Dibanding Promosi Asian Games

Cak Imin Merasa Dipuji Jokowi soal Baliho Wajahnya Lebih Banyak Dibanding Promosi Asian Games

Nasional
Pedagang di Jalan Jatibaru Akan Dipindah ke Lahan Milik Sarana Jaya

Pedagang di Jalan Jatibaru Akan Dipindah ke Lahan Milik Sarana Jaya

Megapolitan
Mantan Narapidana Korupsi Dianggap Tak Berhak Tempati Kursi Parlemen

Mantan Narapidana Korupsi Dianggap Tak Berhak Tempati Kursi Parlemen

Nasional
Berkat YouTube, Pria yang Hilang 40 Tahun Bertemu dengan Keluarganya

Berkat YouTube, Pria yang Hilang 40 Tahun Bertemu dengan Keluarganya

Internasional
Terlilit Utang, Pegawai BRI Kuras Dana Nasabah hingga Rp 562 Juta

Terlilit Utang, Pegawai BRI Kuras Dana Nasabah hingga Rp 562 Juta

Regional
Trump Siap Bekerja Ekstra Keras Demi Warga Jepang yang Diculik Korut

Trump Siap Bekerja Ekstra Keras Demi Warga Jepang yang Diculik Korut

Internasional
Satu Warga di Pulau Buru Terjangkit Penyakit Aneh, Diduga karena Merkuri

Satu Warga di Pulau Buru Terjangkit Penyakit Aneh, Diduga karena Merkuri

Regional
Jaksa Keberatan Fredrich Sebut Penyidik KPK Desersi Polri

Jaksa Keberatan Fredrich Sebut Penyidik KPK Desersi Polri

Nasional
Curi Kucing untuk Dijadikan Sup Tradisional, 2 Pria Ditangkap

Curi Kucing untuk Dijadikan Sup Tradisional, 2 Pria Ditangkap

Internasional
Close Ads X