Kompas.com - 22/08/2012, 10:56 WIB
EditorCaroline Damanik

SURABAYA, KOMPAS.com - Wahyu Mohammad Ihsan dan Arif Priyanto harus merampungkan tugas akhir. Namun, mereka berpikir keras untuk membuat suatu produk yang berguna. Juli lalu, dua mahasiswa Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) jurusan Mekatronika ini pun menciptakan kursi roda pintar untuk mempermudah penyandang cacat melakukan aktivitas.

"Kursi roda yang kami sebut 'Reconfiguration Wheel Chair' itu merupakan hasil riset kami selama setahun untuk tugas akhir," kata Arif seperti ditulis di laman resmi PENS.

Arif bertugas merancang mekanik, mengatur kecepatan, dan mobilitas kursi roda itu, sementara Wahyu bertugas membuat mekanik dan kontrol lengan untuk mengatur ketinggiannya.

Kursi roda mereka ini dikontrol dengan menggunakan remote yang memungkinkan penggunanya bisa mengatur ketinggian kursi sesuai kebutuhan. Dengan demikian, penyandang cacat tidak perlu meminta bantuan orang lain bila ingin mengambil benda, misalnya untuk benda yang terjatuh ke lantai, pengguna kursi roda bisa menyetel kursi lebih rendah dengan menggunakan remote agar bisa mengambil benda tersebut.

"Kalau ingin mengambil benda tidak perlu meminta bantuan orang lain lagi. Kursi roda ini dapat membantu menaikkan penggunnya hingga setinggi orang jinjit, untuk mengambil benda yang letaknya di atas, misalnya buku di rak lemari," kata Wahyu.

Dalam kondisi normal, kursi roda yang dioperasikan dengan aki bertegangan 24 volt itu dapat dipergunakan seperti kursi roda biasa dengan memposisikan di ketinggian standar serta mampu bergerak normal dengan kecepatan 0.3 meter per-detik.

"Jadi, cukup dengan duduk di kursi roda dan memegang remote di tangan, maka penyandang cacat dapat lebih mudah berinteraksi dengan lingkungan sekitar tanpa membebani orang di sekitarnya. Mereka pun bisa lebih mandiri," katanya.


Keluar masuk pasar loak

Untuk membuat kursi roda ini, Arif dan Wahyu harus keluar masuk pasar barang bekas untuk mencari motor yang sesuai. Masalah dana juga sempat menjadi tantangan tersendiri. Pasalnya, pembuatan kursi ini telah menguras kocek mereka hampir Rp 10 juta. Namun, kendala demi kendala tak membuat langkah mereka surut.

"Kendala yang kami alami selama pembuatan kursi adalah masalah desain kursi dan motor yang digunakan. Desain kursi sempat diubah beberapa kali. Mekaniknya rumit. Selain itu, kami juga harus memastikan keamanan pengguna dengan mengatur keseimbangan kursi jika dipakai," kata Arif.

Arif berharap agar karya mereka ini tak hanya berhenti sampai nilai tugas akhir saja. Dia mengharapkan, kursi roda ini dapat dikembangkan sehingga bentuknya lebih menarik dan sempurna untuk kemudian diproduksi massal dan membantu para penyandang cacat dalam beraktivitas. Selain itu, mereka juga berencana mematenkan kursi roda pintar buatan mereka itu.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.