Kompas.com - 10/09/2012, 15:30 WIB
EditorCaroline Damanik

Oleh Sidharta Susila

KOMPAS.com - Ada ironi nan pilu dalam pendidikan kita. Kemasygulan ironi itu berulang dan kian mengabaikan martabat pendidikan. Terbayangkankah guru memperlakukan siswanya seperti barang tak berjiwa? Hal itu dilakukan hanya demi kepentingan guru. Beginikah nasib pendidikan ketika uang begitu memobilisasi dinamika pendidikan?

Riwayat pendidikan kita diwarnai sejarah uang (gaji). Sampai lahirnya era Reformasi, gaji guru, khususnya guru PNS, demikian kecil. Reformasi telah membalikkan nasib guru, khususnya guru PNS. Pemerintah terus menaikkan gaji guru dan memberikan beragam tunjangan.

Niat meningkatkan kesejahteraan guru itu mulia. Sayang, begitu banyak guru yang belum selesai dengan dirinya. Kepahitan hidup panjang karena gaji kecil membuat mereka demikian dahaga uang. Jiwa mereka kian kerontang ketika panggilan jiwa sebagai pendidik nihil. Guru hanyalah sebuah pekerjaan.

Ketika pemerintah terus menaikkan gaji dan memberikan beragam tunjangan, mereka tergagap-gagap hingga mabuk. Mereka tak lagi berpijak kukuh karena nihilnya panggilan jiwa sebagai pendidik. Pengabdian dengan menjadi guru menjadi tema usang dan bahan olok-olokan.

Pada gelora nafsu meraup uang inilah sejumlah guru berubah karakter dari abdi menjadi budak. Abdi itu pemuja kehidup- an yang memuliakan martabat diri. Pilihan sikap dan tindakannya diorientasikan memuliakan kehidupan dan martabat diri. Orientasi hidup abdi adalah investasi jangka panjang.

Budak adalah kebalikannya. Sikap dan tindakan budak hanya untuk kepentingan jangka pendek lagi egoistis. Budak hanya akan bekerja bila tahu akan segera mendapat hasil/untung untuk dirinya. Budak tak peduli kalaupun pilihan sikap dan tindakannya menghancurkan martabat dan kehidupan.

Perilaku membudak (uang) ini tercecap pada kasus pembocoran soal ujian, proyek buku, dan pembangunan pengadaan fasilitas pendidikan yang amburadul, memberikan jasa manipulasi nilai, atau memecah jumlah kelas di sekolahnya demi memenuhi tuntutan minimal proyek sertifikasi. Juga ketika mereka terus menambah kelas dengan menerima sebanyak-banyaknya siswa tanpa seleksi agar mencapai target minimal jumlah mengajar untuk tuntutan sertifikasi. Tak peduli cara ini dilakukan di tengah sekolah-sekolah kecil miskin yang kian sekarat.

Ini tragedi pendidikan. Niat awal meningkatkan kesejahteraan agar guru kian bermartabat kini justru telah menjadi proses perbudakan (guru) yang justru menghancurkan martabat serta kehidupan.

Peran negara

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.