Kompas.com - 17/09/2012, 09:32 WIB
EditorDini

KOMPAS.com - Seorang lulusan universitas terkenal yang direkrut lima tahun lalu, dinyatakan tidak lulus ketika menjalankan evaluasi sebagai supervisor saja. Fakta ini membuat orang tersadar bahwa setelah mulai bekerja, yang bersangkutan tidak menambah ketrampilan dan pengetahuannya, baik itu mengenai cara berorganisasi yang lebih baik, cara mengenal orang lain, cara mengawasi anak buah, dan masih banyak hal lain yang sebenarnya ada di depan mata. Ia bukan tidak dikirim ke berbagai pelatihan. Namun, apa yang dipelajari dalam pelatihan kemudian tidak berbekas pada kebiasaan, tingkah laku, dan ketrampilannya.

Bila kasus seperti ini terjadi pada 50-60 persen orang di perusahaan, dapat dikatakan bahwa "proses belajar" atau pembentukan learning organization di suatu perusahaan mengalami stuck. Inilah realitas betapa mengembangkan budaya belajar merupakan tantangan nyata.  Banyak sekali hal yang ada di depan mata, namun tidak terlihat, terlupakan, atau tidak pernah dipraktekkan.

Banyak pimpinan mengeluhkan sulitnya mengubah kebiasaan dan menambah wawasan karyawan, seolah-olah kemampuan belajarnya tidak ada. Hal yang kerap dijadikan alasan mandeknya belajar adalah sibuknya melakukan kegiatan operasional atau memang tidak berminat. Upaya perusahaan untuk mengembangkan ketrampilan servis, mendengar, atau juga menjaga compliance kerap dilakukan sampai membuat poster "dos and don’ts” di setiap sudut kantor, namun ini pun belum tentu mempan.

Jadi, kalau ada perusahaan mengklaim bahwa mereka adalah learning organization, perusahaan ini tentu sudah melakukan upaya atau kebiasaan yang sangat istimewa, karena banyak lembaga lain yang sama sekali tidak berhasil mengembangkan situasi ini, bahkan tidak menemukan clue bagaimana melakukannya.

Di tengah maraknya kritik dan komentar bahwa pengajaran di sekolah “tidak seperti dulu”, bahkan “salah arah”, sebaliknya kita juga melihat betapa terobosan belajar tumbuh subur. Cara belajar yang “canggih”, di mana murid atau karyawan diberi kesempatan bereksperimen, berpresentasi, berdiskusi, bertanya pun bertebaran. Kita juga melihat munculnya komunitas belajar gratis yang banyak sekali diminati, bahkan di komunitas ini para peserta rela berpanas-panas atau duduk di lantai mempelajari sesuatu. Ini tentu gejala positif dan adalah bukti betapa kita sebetulnya “haus” untuk mengembangkan diri, memperkuat expertise, serta mengembangkan budaya belajar.

Revolusi belajar
Dalam bukunya The learning Revolution, Gordon Dryden dan Dr Jeannette Vos mengungkapkan bahwa perkembangan cara berkomunikasi dan teknologi sudah demikian pesat. Tengok bagaimana cara komunikasi kita yang beralih dari telepon menjadi lebih menggunakan teks, yaitu ber-SMS ataupun menggunakan instant messenger. Kita pun, dengan bantuan teknologi, kini bisa menguasai bahasa asing dalam hitungan bulan, tidak usah lagi bertahun-tahun.

Di era teknologi ini, belajar bisa dengan waktu yang fleksibel karena bisa dilakukan secara e-learning, menggunakan e-book, dan diuji secara e-assessment. Dunia seolah tidak berbatas, bahkan kita bisa mengatakan bahwa dunia sudah dibanjiri oleh informasi dan produk-produk yang dapat kita gunakan untuk belajar.

Namun demikian, kita juga sangat sadar bahwa memiliki akses ke informasi tidak berarti proses penyerapan ilmu baru lebih mudah. Tetap saja ada tantangan pada bagaimana individu akan memproses informasi yang diperoleh agar dapat memperkaya wawasan dan terjadi proses belajar efektif. Kita juga perlu ingat bahwa banjirnya informasi bisa menimbulkan distraksi atau gangguan terhadap proses pemahaman individu. Itu sebabnya mantra belajar yang klasik: “Make it Matter. Make it Simple. Make it Stick” tetap berlaku dalam revolusi belajar ini.

Prinsip belajar yang juga kita perlu pahami adalah proses belajar bersifat individual. Kita sendiri bisa membedakan antara kecepatan dan efektivitas mempelajari sesuatu yang menarik dan yang tidak menarik. Orang akan menyerap dan mempraktekkan apa yang baru dipelajarinya bila ia merasa bahwa apa yang dipelajarinya itu "berarti". Ini sebabnya maka ada ahli yang mendalami "experiential learning" di mana individu menemukan sendiri makna dan "aha" dalam pengalamannya, sehingga ia bisa menceriterakan kembali, bahkan mengotak-atik konsep ini dalam pemikiran dan perbuatannya.

Komunitas: Instruktur yang paling andal
Tentu kita pernah mendengar diskusi seru seperti ini: “Nih, lihat nih”, Oh begini nih...”, “Ternyata yang dimaksud itu...”, “Sudah mengerti, belum?”. Bisa dipastikan individu yang terlibat pembicaraan ini merasakan keasikan belajar. Kita bisa menyebutnya sebagai situasi “learning by not learning”.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.