Kompas.com - 26/09/2012, 23:08 WIB
|
EditorTri Wahono

JAKARTA, KOMPAS.com - Budayawan Radhar Panca Dahana menilai tawuran antarsekolah yang terjadi akhir-akhir ini di Jakarta lebih disebabkan peran orangtua dalam mendidik anak yang tidak berjalan secara tepat dan efektif.

Pasalnya, orang tua dan sekolah lambat merespon arus perubahan kebudayaan sehingga identitas budaya yang dicerna anak berbeda dengan identitas budaya pelaku pendidikan, orangtua, dan sekolah.

"Orangtua dan sekolah yang konservatif, ortodok, mengakibatkan anak terkekang dan suka berbuat kekerasan untuk mencurahkan eksistensinya yang terabaikan. Anak lebih mencurahkan identitas budaya dirinya dengan menyerap kebudayaan di lingkungan sekitarnya tanpa disaring lebih dahulu. Karena itu jangan kaget kalau perilaku anak di rumah berbeda dengan kelakuan anak di luar pantauan orang tua dan sekolah," ujar Radar di acara diskusi Rusak Budaya Hancur Negara di Taman Ismail Marzuki Cikini, Jakarta, Rabu (26/9/2012).

Radhar menjelaskan, orangtua dan sekolah harus dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan budaya yang sangat cepat. Orangtua dan sekolah, terangnya, tidak masanya lagi memperlakukan anak dengan mendidiknya untuk menuruti kehendak orangtua dengan penyaluran pendidikan dasar anak berdasarkan dimensi budaya yang berbeda. Sebab, hal itu akan membuat anak merasa terabaikan dan dikucilkan dari dimensi budaya yang mempengaruhinya saat bergumul dengan sebayanya.

"Lingkungan anak yang luwes dan menyediakan banyak pilihan itulah yang dipilih anak. Selain itu, tidak adanya transisi budaya antara anak dan orangtua serta sekolah yang membuat identitas anak lebih dibentuk lingkungannya. Seharusnya orangtua dan sekolah tentunya dapat menjembatani hal tersebut dengan memberi arahan dan contoh bahwa lingkungan luar tidak selamnya baik dan harus dipilih. Jangan ada lagi jarak antara anak dan orangtua," tambahnya.

Dia menjelaskan, rentang waktu anak berkumpul dengan orangtua dan sekolah turut mempengaruhi hal itu. Sebab, anak lebih banyak menghabiskan waktunya dengan sekolah dan dunia pergaulan bebas daripada orangtua. Hal itu yang menyediakan jalan kenakalan remaja dalam diri anak.

Dia menambahkan, motif dari tawuran antar ABG tersebut tidak bergeser dari tahun ke tahun. Kenakalan remaja tersebut, terangnya, adalah bentuk salah dari aktualisasi keakuan anak dalam pergaulannya.

"Seharusnya negara dapat berperan dalam membendung hal itu. Maraknya kenakalan remaja membuktikan ada pembiaran, negara lepas tangan," tegasnya.

Radhar mengatakan, negara harus berperan besar dalam melindungi anak dan memberikan hal positif dalam rangka membentuk mental anak. Dia menjelaskan banyaknya budaya luar yang mengekspose kekerasan tanpa disensor negara telah sedikit banyak membentuk eksistensi diri anak.

Sebab itu, dia menyarankan trisula pembentuk kepribadian anak yaitu sekolah, orangtua, dan negara harus selaras dalam membentuk karakter anak yang sesuai budaya nasional.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.