Kompas.com - 27/09/2012, 13:29 WIB
EditorJodhi Yudono

MAMUJU, KOMPAS.com — Sebanyak 3.055 anak keluarga suku terasing atau suku Bunggu di Kabupaten Mamuju Utara, Sulawesi Barat, masuk dalam kategori putus sekolah.

"Hasil pendataan yang dilakukan hingga akhir 2011 terungkap angka putus sekolah anak suku Bunggu mencapai 3.055 anak. Ini tentu menjadi perhatian kami agar anak-anak yang putus sekolah di daerah pedalaman itu juga mendapatkan pendidikan seperti kondisi daerah lainnya," kata Kepala Dinas Pendidikan Sulbar Jamil Barambangi di Mamuju, Kamis.

Karena itu, kata dia, anak-anak yang putus sekolah ini akan dirangkul agar mereka bisa mengikuti pendidikan yang layak seperti masyarakat yang ada di daerah pedesaan ataupun perkotaan.

"Untuk menuntaskan angka putus sekolah pada wilayah suku terasing ini bukan perkara mudah karena mereka punya tradisi kehidupan yang tidak sama dengan masyarakat yang ada di wilayah perkotaan," kata dia.

Apalagi, lanjut dia, suku terasing ini sebagian ada yang masih melakukan sistem bercocok tanam secara berpindah khususnya suku Bunggu bagian dalam.

Jamil mengatakan, tahun ini dirinya telah memberikan perhatian serius agar masyarakat suku terasing mendapatkan pendidikan setara dengan daerah lain. "Tahun ini kita telah alokasikan anggaran pendidikan untuk suku terasing sekitar Rp 200 juta," kata Jamil.

Menurut dia, suku Bunggu bagian luar sudah berbaur dengan masyarakat dengan membentuk permukiman baru, bahkan sudah mulai mengikuti perkembangan zaman. Mereka tak lagi membuat rumah di atas pohon, tetapi telah membangun pondokan seperti masyarakat lain pada umumnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Walau demikian, kata dia, suku Bunggu yang telah tinggal menetap ini masih tertinggal dan bahkan angka buta aksara di daerah itu sangat tinggi. "Makanya, kami mencoba melakukan interpensi agar suku primitif di Matra ini mampu berkembang lebih jauh lagi," terangnya.

Jamil yang juga mantan ketua KPU Sulbar ini juga menyampaikan, suku Bunggu bagian dalam yang hidupnya masih sangat primitif ini hendaknya tetap dijaga keasliannya.

"Suku Bunggu bagian dalam akan kita jaga keasliannya sembari kita lakukan langkah-langkah agar mereka mendapatkan pendidikan yang layak," ucapnya.

Sebab, ujar dia, suku terasing bagian dalam itu merupakan aset budaya yang harus dijaga sebagai kekayaan budaya kearifan lokal di daerah ini. "Suku Bunggu merupakan aset budaya yang perlu kita jaga. Biarkanlah mereka hidup dengan cara tradisional tetapi tetap diberikan perhatian khusus bagi generasi suku terasing itu sendiri," pungkas Jamil.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.