Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Moerdiono Pahami Pancasila sebagai Ideologi Terbuka

Kompas.com - 02/10/2012, 02:08 WIB

Jakarta, Kompas - Kesetiakawanan dan setia pada ide yang diyakini adalah hal yang paling menonjol pada Moerdiono, Menteri Sekretaris Negara (1988-1993 dan 1993-1998). Salah satu ide yang dipahami dan diperjuangkan adalah ide Pancasila sebagai ideologi terbuka. Dalam sikapnya, ketika reformasi telah berjalan 14 tahun, kekuasaan diperebutkan, orang menjadi pragmatis dan tak lagi setia kawan, Moerdiono tetap tampil sebagai pribadi yang setia kawan.

”Hingga Pak Harto pergi, tidak ada sikap negatif Pak Moerdiono pada Pak Harto,” kata mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie pada peluncuran buku Moerdiono: Bagimu Negeri di Fadli Zon Library, Jakarta, Senin (1/10).

Buku yang diterbitkan Fadli Zon Library dan Institute for Policy Studies ini merupakan kumpulan makalah yang pernah disampaikan Moerdiono dalam berbagai kesempatan tahun 1990-1998. Di rentang waktu itu, Moerdiono menjadi pembantu Presiden Soeharto. Bersama Menteri Penerangan Harmoko, Moerdiono kerap tampil di media menyampaikan kebijakan-kebijakan pemerintah.

Menurut Jimly, Moerdiono adalah tokoh yang setia pada ide meskipun pada praktiknya tidak membuatnya menjadi kaku. Hal itu, misalnya, Pancasila sebagai ideologi terbuka adalah ide yang setia dipegang dan diperjuangkannya.

Menurut anak sulung Moerdiono, Ninuk Mardiana Pambudy, Moerdiono dalam tulisan-tulisannya juga menyinggung tentang bagaimana memahami Pancasila sebagai ideologi terbuka. Implikasinya, Pancasila harus diperlakukan sebagai ideologi yang harus dapat dimaknai sesuai perkembangan zaman.

Bangsa Indonesia sudah memilih Pancasila sebagai dasar negara, artinya Pancasila harus menjadi pedoman dalam berbangsa dan bernegara seraya selalu terbuka untuk dimaknai ulang sesuai tuntutan zaman.

Moerdiono tidak kenal lelah menyemangati anak-anak muda. ”Sangat sering Pak Moer datang ke tempat saya dan memberi nasihat agar saya sebagai anak muda harus berpegang pada Pancasila. Saya melihat, Pak Moer selalu tampil dengan persiapan matang agar tidak memunculkan kontroversi. Beliau menginspirasi saya, selalu hati-hati dan sederhana,” kata Direktur Eksekutif Soegeng Sarjadi Syndicate Sukardi Rinakit.

Pemimpin Redaksi Harian Kompas Rikard Bagun mengatakan, ”Ketika Pak Moer tampil, kita seperti diajak mengantuk. Tetapi kita tidak pernah mengantuk karena substansi dan detail yang disampaikan lengkap. Setiap kata yang diucapkan selalu berisi. Beliau mampu menampilkan hal-hal yang sangat kontras,” kata Rikard.

Rikard menambahkan, Moerdiono adalah seorang akademisi karena bisa menjelaskan segala hal secara logis dan bisa keluar dari wilayah yang terkungkung, jelas, dan global. Ia adalah pejabat yang tidak banyak intrik, polos, tokoh demokrat yang sesungguhnya, dan selalu mencari ide-ide baru untuk menjawab persoalan konkret.

Memotivasi

Sekretaris Kementerian Sekretariat Negara Lambock V Nahattands yang pernah menjadi anak buah Moerdiono menuturkan, Moerdiono juga selalu memberikan semangat dan motivasi kepada stafnya.

”Pak Moer selalu ingin anak buahnya berkembang. Pernah usulan yang saya sampaikan melalui memo kepada Pak Moer, oleh Pak Moer diteruskan dan disetujui Presiden Soeharto. Ini cara Pak Moer membangkitkan semangat staf agar pendapat orisinal staf dibaca Presiden,” kata Lambok.

Hal senada disampaikan Asisten Menteri Sekretaris Negara (1989-1999) Saafroedin Bahar. ”Perhatiannya kepada staf sangat luar biasa. Pak Moer orang baik dan pejabat yang baik,” kata Saafroedin.

Soal pemikiran, menurut Fadli Zon, pendiri Fadli Zon Library, Moerdiono berangkat dari rasionalitas dan common sense. Ia sangat menghargai kalangan intelektual yang berpikir masuk akal, apalagi orisinal. Ia tidak suka text book thinker, istilah yang populer pada zaman Soekarno.

Pemikiran Moerdiono di berbagai bidang yang dikompilasi dalam buku tersebut hanya sebagian kecil gagasan-gagasan besarnya. Buku ini merangkum pemikirannya dalam ceramah-ceramah selama menjabat sebagai Mensesneg. (LOK)

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com