"Aku Lebih Suka Pakai Bahasa Indonesia"

Kompas.com - 30/10/2012, 10:53 WIB
Penulis Ali Sobri
|
EditorCaroline Damanik

JAKARTA, KOMPAS.com — Tren bahasa alay semakin merebak di tengah pergaulan anak dan remaja. Iklan televisi sampai ulangan sekolah terkena demam bahasa alay.

Para remaja tampak sangat menikmati mengkreasikan huruf dan angka ini menjadi kata dan kalimat yang umumnya dipakai dalam percakapan di pesan singkat, pesan elektronik, dan situs jejaring sosial. Tak ayal, banyak orangtua kebingungan.

Candrika Sagitasari mengaku pernah menggunakan bahasa alay saat berkomunikasi dengan teman-temannya. Namun, sekarang tidak lagi.

"Aku dan teman-teman sudah jarang pake bahasa alay. Awalnya seru, lucu. Tetapi tolong, mindset kita bilang bahwa bahasa alay itu enggak keren dan kita (sekarang) nolak itu," ungkap siswi SMA Negeri 70 Jakarta Selatan ini saat diajak berbincang Kompas.com, Senin (29/210/2012) siang.

"Sekarang, dalam pergaulan, aku lebih suka pakai bahasa Indonesia. Dan, kita harus melestarikannya dengan lebih baik lagi," ujarnya.

Penggemar buku-buku puisi Chairil Anwar ini menyadari bahwa ada kemerosotan perkembangan bahasa di kalangan anak dan remaja belakangan ini menyusul maraknya penggunaan bahasa alay dalam pergaulan sehari-hari. Dia khawatir, ke depannya, generasi muda bisa gagal berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Buktinya, lanjut Candrika, bisa dilihat dari nilai ulangan dan ujian mata pelajaran Bahasa Indonesia.

"Bahasa alay itu kata-kata atau kalimat yang jika dimisalkan seperti kata 'lagi' menjadi 'gy', terus 'kamu' menjadi 'k4mU', dan masih banyak lagi. Pokoknya perkembangan bahasanya jadi parah. Sangat disayangkan, deh," kata Candrika,

Candrika juga berkomentar, bahasa Indonesia memang akan selalu berkembang mengikuti zaman. Namun, menurutnya, kita tak boleh secara sengaja mengacak-ngacak bahasa Indonesia ke dalam struktur yang berantakan dan tidak dimengerti orang banyak.

"Takut aja, kita jadi melupakan bahasa Indonesia. Contohnya udah ada, nilai rata-rata mata pelajaran bahasa kita itu paling rendah dibandingkan dengan mata pelajaran lainnya," tuturnya.

Selain membudayakan penggunaan bahasa yang baik dan benar, siswi kelas XI ini juga mengajak generasi muda untuk cinta terhadap karya sastra Indonesia. Dari karya-karya sastra, lanjutnya, anak dan remaja bisa belajar banyak kosakata yang indah yang dapat memperhalus tutur kata seseorang dan memiliki pilihan kata yang lebih santun dan sesuai konteks sehingga dapat berkomunikasi dengan orang lain dengan baik.


Simak berita dan opini tentang dinamika perkembangan bahasa Indonesia dalam topik "Bahasa dan Generasi Muda Indonesia"

Baca tentang


    Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    Close Ads X